Tampilkan postingan dengan label Australia Awards Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia Awards Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2017

Emak - Emak Mengejar Beasiswa Part 5: Things To Do When You Arrive in Australia

Photo taken by me at Kingston ForeShore

G'day Mate! Apa kabar semua di Indonesia? Duh, kangen deh. Ini perdana saya menulis blog dari Australia loh. Yeay! Saya sudah di Canberra sekarang. AAI (Australia Awards Indonesia) menjadwalkan saya berangkat dari Jakarta pada tanggal 2 Januari 2017 dan tiba di Canberra pada tanggal 3 Januari 2017. Kalo ditanya perasaannya kayak gimana? Yang pasti campur aduk ya..Antara very sad and excited. Sangat sedihnya, saya harus meninggalkan anak, suami dan keluarga saya di Jakarta (walaupun sebenarnya kami berpisah cuma 2 bulan sih, karena mereka akan menyusul saya di Bulan Maret 2017). Excited-nya, di awal tahun 2017 ini, saya akan memulai petualangan belajar dan hidup di negeri kangguru. So, it just like a new year, new adventure and new country to explore! Wohooo! Nah, begitu sampai di Canberra, banyak hal baru yang membuat saya tercengang. Mari sini, saya bagi pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Australia. Hihi.

My Mimam, Pipap and my lil sista, Chubu

The Harlend's
Mengharu biru..aku kangen kamu, anakku!

1. Get An Australia’s Sim Card Phone

Sebelum ke Australia, saya cuma pernah pergi keluar negeri sekali, yaitu ke Singapura. Itu juga dibayarin sama keluarga almarhum om saya, sebagai hadiah kelulusan S1. Haha. Dan sekarang saya harus ke Australia sendirian?Omaigat! tenang, ternyata AAI berbaik hati memberangkatkan awardees-nya secara rombongan. Di Bandara Soetta, saya bertemu dengan beberapa teman yang mengikuti PDT (Pre-Departure Training) bersama. Tidak hanya itu, saya bahkan berkenalan dengan sesama awardees dari Bali ataupun yang berbeda masa PDT-nya. So, calm down, I’m not alone! Said to my self. 

Dan, karena gaya hidup di Australia itu sangat menuntut kita untuk mandiri alias melakukan semua-nya sendiri, maka hal pertama yang saya rekomendasikan untuk dibeli adalah Australia’s Sim Card Phone!. Mengapa sim card untuk telepon? Karena kalo tanpa sim card Australia, kita akan memiliki kesulitan mengontak teman, kenalan disini, bahkan tersasar seperti saya karena tidak ada akses internet untuk mencari arah lewat google map. Cerita saya tersasar ini, enaknya sih dibikin tulisan yang berbeda ya. Haha. Nah, supaya tidak ribet dan bisa langsung dipakai begitu sampai Canberra, baiknya sih beli sim card-nya di Sydney Airport. 

Salah dua jenis sim card di Canberra 

Saya nyesel setengah metong nggak beli sim card disana. Yah, tapi itu karena saya nggak lihat juga sih dimana tempat orang jualan sim card. Cuma, awardees lainnya pada lihat dan beli di Sydney Airport. Poin plusnya, kamu ga perlu repot registrasi sim card sendiri, karena disini ada sales support-nya yang bisa bantu kamu untuk registrasi dan aktivasi sim card-nya. Jadi, intinya, kamu terima beres. Karena kalau kamu beli sim card di Canberra, kamu harus registrasi dan aktivasi sendiri. And, trust me, it’s really difficult! Bahkan sim card pertama saya yang saya beli seharga 12 AUD (2 AUD untuk sim card dan 10 AUD untuk pulsa) tidak aktif juga, sampai saya putus asa dan membeli paket sim card baru. Yah gimana gak putus asa? Sim card saya ga kunjung aktif setelah saya menunggu lebih dari 12 jam. Setelah saya mengontak live chat di web-nya. Setelah saya datengin customer service-nya di mall. They just said: “your data is went stuck in our system. I don’t know why. Maybe you need to wait for about 5 hours more”. Oh man! Big no no. I don’t want to get lost again. So, bye 12 AUD! Dan saya pun membeli paket sim card dari Amaysim seharga 29.90 AUD. Dan, segera setelah registrasi, nomor Australia saya pun aktif. Fiuuhh..FYI, disini banyak provider yang menjual paket sim card seperti yang saya punya, ada merek optus, Vodafone, Telstra. Harganya pun rata-rata sama: 30 AUD. Cuma, cek-cek lagi ya apa saja fasilitas yang didapat. Apakah ada gratis telepon sesama nomor Australia dan fasilitas lainnya.


2. Get My Way Card

Jadi yah, di Canberra itu sistem transportasi umum alias bus-nya udah bagus banget. Ada bus yang namanya Action bus dan itu punya trayek serta jadwal masing – masing di city (ACT). Mirip busway gitu lah, tapi lebih canggih dan luas trayeknya. Pertama – tama mah pasti membingungkan ya buat kita orang Indonesia. Karena kalau di Indonesia, selain busway, kita bisa naik bus kapan aja dan dimana aja. Sedangkan disini beda, kamu harus download aplikasi tripgo atau cek google map buat tau nomor bus, tujuan, naik di halte mana dan berapa, harga tiketnya. Bisa juga sih cek timetable di masing-masing bus stop-nya. Terus, bus disini akan beda dan ganti nomornya saat weekdays dan weekend. 

TripGo App bantu banget buat tau jadwal bus, harga dan nomornya (sumber: www.mactrast.com)

Dan, yang paling penting, langsung aja deh beli My Way Card untuk naik Action Bus ini. Si My Way Card ini fungsinya sih sama ya kayak kartu busway gitu. Bisa diisi uang dan digunakan untuk naik bus di Canberra. Tapi special-nya, kalau saldo kamu habis di kartu ini, kamu tetap bisa naik bus, cuma ya akan tercatat bahwa saldo kamu minus berapa dan akan dipotong ketika kamu sudah top – up saldo di My Way Card. My Way Card ini bisa kamu beli seharga 5 AUD di newspaper agent di mall atau post station di kampus.  

My Way Card

Memang sih ya, SCO (Student Contact Officer) di ANU bilang kalau nanti kita akan mendapatkan concession my way card kalau sudah punya student card, tapi student card-nya kan baru bisa kita dapatkan di minggu kedua tuh. Sedangkan dari minggu pertama, pasti kita sudah butuh banget naik bus. Lagipula, ketika nanti sudah ada student card, kita tetap bisa up-grade kartunya kok dan tetap dapat concession-nya. Jadi, mending beli dari awal dong? FYI, harga tiket bus jika tidak memakai kartu my way sekitar 3,7 AUD (cash), jika memakai my way card tapi bukan student kena harga sekitar 3 AUD, tapi jika student harganya bisa 1,3 – 2,3 AUD. Dan pas pertama saya naik bus dan belum punya My Way Card, herannya saya dikasih harga concession 2,3 AUD oleh bus drivernya, sementara awardees lainnya tetap dikasih harga 3,7 AUD oleh bus drivernya. Jadi, kalau kamu mau nge-test muka, bisa dengan cara ini. Kalo kamu dikasih student concession, artinya muka kamu masih cimit-cimit dan pantes dibilang student. Wahahaha *kemudian ditimpuk awardees lain.

3. Activate Your Commonwealth Bank Account

Buat seorang awardee seperti saya, eksistensi commonwealth bank account ini sangat amat penting. Iya dong, kalau gak ada nomor rekening, nanti establishment fee dan stipend-nya masuk kemana. Haha. Biasanya, satu hari setelah tiba di Canberra, SCO akan meminta kita datang ke ANU Student Central. Disana kita akan diminta untuk mengisi form terkait identitas diri, setelah itu, mereka akan mengantar kita ke Commonwealth Bank yang ada di dalam ANU Campuss. Ketika masih di Indonesia, pihak Commonwealth Bank dan ANU sudah meminta kami para awardees untuk mengisi form pembukaan rekening secara online. Jadi ketika datang langsung ke bank-nya, kami hanya perlu memberikan data akun dan customer service-nya akan mengajukan beberapa (Banyak) pertanyaan tentang kondisi finansial kita. Ini makan waktu yang cukup lama sih. Sekitar 15-30 menit per orang. Gila bok, sampe ditanyain rencana alokasi keuangan kita selama di Australia. Walah, mumet saya. Haha.

Wajah - wajah sumringah abis 'ditampar' 5000 dollar (lokasi: depan CommBank ANU) pssst, yg paling kanan (baju krem) high quality jomblo loh..haha

Setelah itu, sangat disarankan bagi kita untuk men-download commonwealth bank app di smartphone kita. Jadi, kita bisa langsung coba mengecek rekening melalui netbanking. Nah, disini, peran sim card phone Australia juga sangat penting loh. Ketika diminta data diri kan, kita wajib mencantumkan nomor HP. Dan, jika belum punya seperti saya waktu itu, akan berefek pada tidak dapat dibukanya netbanking. Karena system netbanking mengharuskan kita memiliki nomor HP, sehingga kode untuk semua hal perbankan (termasuk transfer code) akan dikirim ke nomor HP Australia. So, karena di awal saya belum punya sim card, jadi lah keesokan harinya saya harus datang lagi ke bank untuk meng-update data agar bisa ngecek establishment fee sudah masuk atau belum. FYI, hari ketiga di Canberra, biasanya establishment fee sudah masuk kok. Sedangkan, living allowance alias stipend-nya akan masuk per 2 minggu (fornightly). Tenang, ketika briefing pertama kali dengan SCO, kita akan diberikan jadwal kapan stipend akan masuk rekening. Yihaa! Payday!.

4. Find information about permanent accommodation

Ini aseli krusial banget. Saran saya, start looking, finding and contact everyone related to permanent accommodation info as soon as you get here. Soalnya, cari akomodasi permanen di Canberra ini susah dan kompetitif banget. Apalagi kalau kita menggunakan jasa agen. Biasanya mereka punya prosedur yang sangat ketat dan memerlukan banyak dokumen untuk aplikasinya. Dokumen apa saja yang perlu kamu siapkan?

  • Birth Certificate (translated)
  • Bank Statement (bisa di print out dari commbank web atau request ke bank-nya langsung)
  • Driver Licence (sim-nya yang internasional ya, atau yang sudah dapat surat keterangan di KBRI)
  • Passport
  • Medicare Card (bisa dibuat setelah OSHC ada, cek web OSHC)
  • Proof of Income (slip gaji atau surat sakti dari SCO University yang menjelaskan siapa kita dan berapa stipend dan living allowance kita sebagai student) 


Contoh form aplikasi dari Property Agent yang harus dilengkapi

Nah, setiap dokumen ini berbeda – beda loh di tiap agent. But, mostly, they ask for this general documents. Uniknya, setiap dokumen ini ada nilai assessment-nya loh. Dan supaya aplikasi kamu bisa diproses, kamu butuh 100 poin terkumpul dari dokumen – dokumen ini. Sekedar tips dari teman saya Cey dan suaminya, akan lebih baik kalau kamu membuat semacam cover letter yang menjelaskan siapa kamu, sifat kamu, dan bagaimana nantinya perlakuan kamu terhadap property si land lord. Yes, lads, we need to impress them out!. Getirnya lagi it takes times and effort to find suitable permanent accommodation. Soalnya disini, kita perlu bikin appointment untuk inspection (belum lagi perkara nyasar panas- panasan cari alamat propertinya, haha) isi dan lengkapi dokumen untuk aplikasi dan banyak hal lainnya. Jadi, lupakan lah dulu sightseeing atau jalan – jalan ya..daripada kamu jadi tunawisma? Hayooo..Haha.

Rabu, 13 Juli 2016

Emak - Emak Mengejar Beasiswa: Part 4: Kenapa Harus Australia Awards Scholarship?

Ahhh, akhirnya saya bisa nulis tentang cerita beasiswa lagi. Mumpung masih libur. Hehe. Di tulisan cerita beasiswa saya kali ini, saya akan berbagi mengenai salah satu keunggulan beasiswa Australia Awards Scholarship dibanding dengan beasiswa lainnya. Tentu semua jenis beasiswa bagus dan punya keunggulan tersendiri. Misalnya, LPDP, beasiswa ini direkomendasikan untuk mereka yang punya keluarga karena setiap anggota keluarga yang dibawa serta juga akan mendapatkan tunjangan tambahan sebesar 25% dari jumlah beasiswanya. Atau beasiswa DIKTI yang katanya punya kuota khusus buat para pengajar, sehingga hampir dipastikan bisa lulus kalau kamu pengajar atau dosen, tentunya dengan usaha keras juga ya. Lalu, apa yang membuat saya akhirnya melamar beasiswa Australia Awards Scholarship (selanjutnya akan saya sebut AAS)?Apa sih salah satu keunggulan beasiswa ini yang membuat saya sangat amat bersyukur mendapatkannya? Jawabannya ada pada: Pre Departure Training. Makhluk macam apalagi itu? Yuk, simak pengalaman saya yang sudah sekitar 1,5 bulan mengikuti Pre Departure Training AAS.

Jumat, 12 Februari 2016

Emak-emak Mengejar Beasiswa: Part 2

Okeh, kita sambung lagi ya tulisan kemarin...Memang nggak ada yang pernah bilang ke saya, kalau mengejar beasiswa setelah punya anak itu tidak mudah. Saya tidak menyebutnya sebagai hambatan ya, tapi tantangan. Saat saya berusaha flash back apa saja yang sudah saya lakukan sampai akhirnya bisa menjadi salah satu dari 200 Australia Awards Scholarship Awardee, saya sendiri tertegun. memang lebih enak mengenang ya, daripada melakukannya. Haha. Baiklah, berikut hal-hal yang saya lakukan dalam rangka mempersiapkan beasiswa:

1. Bikin Komitmen dengan Suami dan Caregiver
"Berdua denganmu..pasti lebih baik..." kira-kira begitu penggalan lagu dari Acha Septriasa (yang adalah selingkuhannya mantan saya. wkwkwk. kok jadi curcol?). Never mind. Intinya, karena kita sudah berkeluarga dan punya anak, ada baiknya kita diskusikan terlebih dahulu mengenai rencana kita mengejar beasiswa. Tentunya supaya bisa meminimalisir hal-hal yang mungkin tidak kita harapkan. Kalau dulu, saya diskusi dengan suami dan menyusun rencana apa yang akan saya lakukan dan alokasi dana yang harus disiapkan terkait dengan rencana tersebut. Beruntung, kami sepakat untuk mendukung saya dahulu yang maju mengejar beasiswa, setelah itu, baru lah suami saya yang nanti akan mengejar beasiswa, Oh ya, saya juga sounding rencana saya ke Mama dan papa saya sebagai yang selama ini mendampingi saya mengasuh Janthra. Ini membantu banget loh, misalnya ya, ketika saya sudah bekerja kembali dan tidak mungkin izin untuk mengantarkan langsung formulir aplikasi dan berkas beasiswa ke AAS Office, maka suami saya lah yang mewakili saya untuk pergi mengantarkan. Atau saat saya harus konsentrasi belajar karena besoknya IELTS Test, mama dan papa saya langsung bantu mengurus Janthra. Pastikan support system kita mendukung penuh ya.



2. IELTS Preparation Course
Saya sadar bahasa inggris saya pas-pas-an. Pas ditanya bule ya bisa jawab, pas disuruh ngomong ya bisa ngomong, tentunya dengan banyak jeda' aaa', iii', uuu', eee'. Haha. Jadilah, kami memutuskan bahwa saya perlu ikut IELTS Preparation Course. Bukan apa-apa sih, IELTS test itu kan mihil ya biayanya, sekitar 2,5 juta, lah nanti kalau kita minim persiapannya, sayang dong duit 2,5 juta itu melayang??Mayan tuh bisa buat beli dompet Kate Spade. Haha. Apalagi setelah saya browsing dan tanya-tanya ke beberapa teman, model soal IELTS ini berbeda dengan TOEFL. Dulu, saya pernah ikut TOEFL dua kali, dan dapet skor 500 dan 528, tapi ini tidak membuat saya yakin bahwa saya bisa dapat nilai yang baik di IELTS Test. Saya sih sangat merekomendasikan anda untuk ikutan IELTS Preparation Course ya. Karena disini, kita di-drill untuk terbiasa mengerjakan soal-soal khas IELTS. Apalagi IELTS test punya 2 komponen bahasa inggris yang perlu perhatian khusus. Writing dan Speaking. Writingnya akan ada 2 bentuk soal, soal pertama kita diminta menganalisa gambar, tabel, grafik, dll dan menuangkannya menjadi essay. Soal kedua, kita diminta untuk mengeluarkan opini kita dan berargumentasi atas pernyataan yang disediakan, tentunya dituangkan juga dalam essay bahasa inggris. Nah, Speakingnya, kita berhadapan langsung dengan native speaker. Biasanya examiner akan meminta kita menceritakan tentang diri kita, bertanya tentang beberapa topik secara random dan melakukan speech atas topik yang mereka berikan. Aw aw aw, jadi harus bener-bener disiapin doong.

3. Kontak Dosen, Bos dan Siapapun yang bisa kasih Recommendation Letter!
Ini wajib hukumnya! dari jauh-jauh hari ya. Bina relasi yang baik dengan Bapak dosen dan bos tercinta, sehingga pada saatnya nanti kita minta mereka memberikan surat rekomendasi, mereka akan dengan senang hati menulisnya. Hehe. Saya sih dulu beberapa bulan sebelumnya sudah mulai kontak lagi dengan mereka, entah sekedar menanyakan kabar, kabar keluarga atau kesibukan saat ini. Kan nggak etis juga, kalo ujug-ujug kita minta surat rekomendasi mereka tanpa tedeng aling-aling. Haha. Oh ya, permohonan surat rekomendasi ini biasanya ada 2 cara, 1) Orang yang merekomendasikan kita menulis sendiri surat rekomendasi untuk kita, sehingga lebih genuine, tulus dan mengena. Hehe. Cuma biasanya ini akan sulit bagi orang-orang yang sibuk 2) Kita membuat draft surat rekomendasi, mengirimkan kepada orang yang akan menjadi referee kita, lalu jika setuju, mereka akan langsung tanda tangan. Nah, cara ini biasanya lebih banyak dipakai, mengingat kesibukan orang-orang penting yang akan jadi referee kita. Beruntung, saya punya mantan dosen di Ilmu Kesos UI dulu yang sekarang jadi wakil dekan FISIP UI. Selain beliau, saya juga meminta team leader saya di kantor lama yang notabene-nya bule keturunan belanda-turki untuk menjadi referee saya. Siapa referee kita, juga sangat menentukan loh. Pilih lah orang-orang yang cukup dikenal, punya publikasi baik dan punya pengaruh di bidangnya.

4. Disiplin Belajar, Belajar dan Belajar.
Kenapa saya sampai menekankan kata Belajar sampai 3 kali?hehe, karena inti dari semua ini adalah belajar. Kita mau dapat beasiswa supaya kita bisa belajar hal baru juga toh. Karena itu, dalam perjalanan mendapatkannya, ya harus dengan belajar dong. Dulu, saya membuat target belajar setiap hari. Setiap hari, harus ada 1 dari 4 komponen bahasa inggris di dalam IELTS Test yang harus saya pelajari. Pelajari teorinya dan latihan mengerjakan soalnya. Hehe. Saat itu, buat saya lumayan menantang situasinya. Saya saat itu belum bekerja, masih menyusui dan mengurus anak sendiri.  No baby sitter atau pembantu. Mama papa saya baru ikut membantu mengurus Janthra ketika saya sudah mulai bekerja. Ripuh banget bagi waktu untuk urus anak dan suami, serta untuk belajar. Biasanya saya curi-curi waktu belajar sehabis menyusui Janthra, tentunya setelah Janthra tertidur pulas. Hilangkan rasa capek, penat atau lelah karena mengurus anak. Saya tahu, paling enak setelah nyusuin anak itu ya ikut tertidur pulas kan bersama anak?tapi dalam kasus ini, TIDAK BISA. Waktu anak tidur, waktu emas untuk kita belajar, walau dalam kondisi ngantuk atau capek. Hehe. Ingat betul saya, ketika baru sekitar 10 menit belajar, anak saya pun bangun dan akhirnya saya harus menutup buku dan mencari kesempatan lain. Seringnya begitu. Hehe. Belum lagi saya juga harus cari waktu untuk pumping ASI sebagai cadangan. Atau ada kalanya payudara sakit karena penuh susu, luka karena gigi anak. Hah, luar biasa lah pokoknya. Hehe. Waktu paling mantap buat saya belajar sendiri biasanya tengah malam, selesai sholat tahajud, selepas menyusui anak. Belajar sendiri ini penting loh, karena walau kita sudah ikutan preparation course, tapi kalau tidak belajar dan latihan sendiri ya sama aja bohong. Hehe.

5. Pelajari Beasiswanya
Ini tidak kalah penting. Kita harus mengenal siapa pemberi beasiswa kita, fokus mereka, persyaratan dan administrasi yang harus dipenuhi dan tentunya form aplikasi yang harus dilengkapi. Di dalam form aplikasi, tantangannya itu ya pada saat kita harus membuat essay, mengapa kita patut mendapatkan beasiswa, apa kontribusi kita ke depan untuk Indonesia. Nah, untuk poin ini, banyak-banyak lah baca buku, baca berita, diskusi dengan teman-teman yang sudah pernah mendapatkan beasiswa. Waktu itu, saya harus curi-curi waktu mengisi formulir aplikasi beasiswa di tengah padatnya jadwal program di kantor yang harus saya implementasikan. Yak! saat itu saya sudah mulai masuk kantor baru dan harus menjalankan program pengembangan anak usia dini di 3 tempat, Semarang, Bogor dan Jakarta Utara. Walhasil sering bgt travelling dan badan rasanya rontok banget. Haha. Tapi ya harus pintar cari waktu untuk isi form aplikasi.

6. Banyak Ibadah dan Rutin Berbuat Kebaikan
Saya percaya pada kekuatan doa. Karena itu, saya punya target sendiri bahwa saya harus memperbanyak ibadah saya dan lebih rajin berbuat kebaikan dari biasanya. Berbuat kebaikan ini bisa dengan berbagai cara loh kalau kita kreatif. Kan gak harus juga dengan selalu mengeluarkan uang sedekah. Bisa dengan ikut membantu teman mempermudah urusannya, membantu kesulitan yang dihadapi kedua orang tua, dll. Prinsipnya, siapa membantu orang lain, sama saja dengan membantu diri snediri juga menuju impiannya. Saya merasakan betul hal itu, banyak dukungan yang saya dapat, termasuk kemudahan dalam tes seleksi beasiswa AAS dan proses JST Interview-nya.

7. Ikhlas
Setelah semua aplikasi dikirim dan berbagai usaha kita lakukan, saatnya kita mempersiapkan mental kita atas semua yang akan terjadi. Bersiap untuk resiko terburuk dan berharap untuk hasil yang terbaik. Ikhlas apapun hasil yang akan terjadi. 

Well, kira-kira inilah 7 hal yang saya lakukan dalam mempersiapkan pengajuan aplikasi beasiswa. Selanjutnya, saya mau nulis apalagi ya?Oh mungkin tentang proses seleksinya ya. Okeh, semoga besok ada waktu juga untuk menulis sambungan cerita ini ya. Hehe. Thanks for reading!

Kamis, 11 Februari 2016

Emak-emak Mengejar Beasiswa: Part 1

Emang kalo sudah menikah, punya anak dan jadi emak-emak, ga boleh ya mengejar beasiswa?hehe. Terkadang saya sedih kalau melihat beberapa Ibu yang terkesan nyinyir kalau ada emak-emak yang mau sekolah lagi. Saya yakin ini bukan masalah pilihan ego pribadi atau tanggung jawab sebagai ibu dan istri. Justru, melanjutkan pendidikan itu salah satu cara untuk mencerahkan masa depan keluarga. Kalo di bahasa sosiologinya sih, pendidikan itu salah satu alat mobilisasi dalam stratifikasi sosial. Hehe.

Anyway, dari dulu, zaman masih muda, single dan imut-imut dulu, saya punya impian untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tapi, itu sebatas ucapan keinginan saja. Tidak ada realisasi berarti selain mengagumi orang-orang dan teman dekat yang satu-per-satu berjuang mendapatkan beasiswa atau mengontak mereka untuk menanyakan apa saja yang harus dilakukan untuk mempersiapkan beasiswa. That's it. Tidak ada movement yang berarti. Kenapa?karena saya merasa tidak percaya diri, merasa sulit dan banyak hambatan, malas serta takut. Iya, pikiran saya sendiri yang justru melemahkan diri saya.

Sampai suatu waktu di tahun 2013, ketika kami sedang mengalami kesulitan keuangan dan saya tengah terlibat pembicaraan serius dengan Pak Suami di sebuah taksi. Posisi saya saat itu sedang hamil. Saya betul-betul 'tertampar' dengan kata-kata suami saya, hingga saya cuma bisa terdiam dan menangis sepanjang perjalanan. Haha. Intinya nih, Pak suami mempertanyakan mimpi saya untuk mengejar beasiswa dan apa realisasi yang sudah saya lakukan untuk mengejar mimpi itu. "Jangan cuma ngomong doang mau beasiswa, dari dulu sampe sekarang cuma ngomong doang. Realisasiin dong, bikin rencana dan pergerakan yang jelas" begitu lah kira-kira penggalan sadis kata-kata suami saya (maklum cyin, orang hamil kan sensitif ya.Haha). 

Wah, panas dong saya. Kata- kata suami saya akhirnya jadi pecut bagi saya. Saat itu saya berpikir: "Eh, liat aja nanti ya, habis gw lahiran, gw akan mulai bergerak dan gw buktiin kalo gw nggak cuma ngomong doang". Hahaha, padahal gak tau aja sejuta tantangan menunggu untuk dihadapi saat masa persiapan beasiswa itu. Gimana perjuangan belajar saat menyusui bayi dan mengurus anak, bekerja kembali dengan rutinitas menggila, sampe ketika kewalahan mengisi form aplikasi beasiswa karena kelelahan bagi waktu jadi ibu dan pekerja kantoran.

Tetapi hari ini, saya bisa tersenyum mengenang itu semua. Suami saya pun tersenyum bangga. Karena kemarin, saya mendapatkan email seperti dibawah ini:



Alhamdulillah. Tuhan tidak tidur. Tuhan tahu perjuangan saya untuk mencapai mimpi. Tuhan membayar semua kerja keras saya. Semua tangisan, lelah, kantuk, amarah, terbayar dengan satu email ini. Halah, mulai lebay dan melankolis nih. Besok, akan saya bahas satu persatu persiapan mengejar beasiswa, siapa tahu bisa jadi referensi. Hehe. Tulisan ini sebenarnya saya tujukan buat para ibu yang sering kali berpikir: "Ah, saya sudah menikah dan punya anak, buat apa sih saya mengejar mimpi?" Bayangin dong mak, kalo mak-emak bisa dapet beasiswa, anak bisa ikut ngerasain pendidikan berkualitas dan kualitas hidup serta lingkungan yang baik untuk bertumbuh. Saya sih pengen ngerasain pengalaman baru itu. So, jangan pernah melupakan mimpi ya mak! Dunia terbentang luas untuk dijelajahi. Hehe.