Minggu, 11 September 2016

12 Tips Jitu Liburan Naik Gunung Bersama Balita



Sudah lama, saya dan suami memiliki keinginan untuk mengajak anak kami, Janthra, untuk mendaki gunung sebagai alternatif liburan keluarga kami. Alasannya simpel, kami bosan menghabiskan waktu di mall yang sangat monoton dan berpotensi membuat anak kami menjadi konsumtif. Apalagi, kami memang memiliki background organisasi pecinta alam di Kampus dulu, jadi konsep back to nature itu memang kami banget. Hehe..

Benar adanya bahwa berkegiatan di alam bebas seperti naik gunung, memerlukan rencana yang matang, mulai dari persiapan sampai pada tahap pelaksanaan. Dengan rencana yang matang, tentunya kita dapat meminimalisir hal-hal buruk yang tidak diinginkan, seperti pada kasus liburan kami seminggu lalu di Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, dimana saat itu Janthra terkena hypothermia. Alam memang tidak bisa diprediksi ya, tapi setidaknya kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Alhamdulillah, walaupun sempat ada kejadian tidak mengenakkan, kami masih selamat dan dilindungi. Nah, saya mau berbagi pengalaman dan tips nih tentang liburan naik gunung membawa balita:


1.   Cari informasi mendalam tentang gunung dan wilayah yang akan kita daki
Pertama, cari tahu mengenai tinggi dan medan dari gunung yang akan kita daki. Hal ini sekaligus sebagai peringatan bagi kita para orang tua, karena biasanya, akan ada larangan untuk membawa balita jika gunung tersebut memiliki tinggi diatas 3000. Akhirnya pilihan kami jatuh ke Gunung Prau yang memiliki ketinggian dibawah 3000 Mdpl, lebih tepatnya sekitar 2530 Mdpl. Kedua, cari tahu juga jalur pendakian mana yang paling mudah, mengingat kita membawa anak. Walaupun Gunung Prau ini memiliki 2 jalur pendakian, namun kami memilih untuk mendaki melalui jalur Pos Dieng. Selain jalurnya mudah (tidak curam dan minim resiko), Jalur Pos Dieng ini juga memiliki pemandangan yang lebih bagus dibanding Jalur Patak Banteng yang terkenal menantang namun singkat. Terakhir, kami juga mencari tahu tentang ada atau tidaknya sumber air selama pendakian karena hal ini akan berpengaruh pada seberapa banyak air yang harus kami bawa. Berdasarkan pengalaman kami, 5 botol air mineral 1500 ml cukup untuk persediaan naik gunung kami selama sabtu-minggu. Sebagai tambahan, bisa juga cari tau lokasi wisata apa yang bisa dikunjungi, siapa tau ada waktu untuk menjejakkan kaki disana sebelum dan sesudah naik gunung.

Wefie dulu di Candi Arjuna Dieng

2.   Buat itinerary, budget dan To Do List selama kegiatan naik gunung
Menurut saya, membuat itinerary dan Budget adalah ‘Nyawa’ dari setiap perjalanan kita. Betapa tidak, itinerary biasanya berfungsi sebagai catatan pengingat mengenai kegiatan apa, tempat kegiatannya, waktu tempuh menuju lokasi serta keterangan lainnya, sedangkan budget akan menunjukkan kondisi keuangan kita. Dengan berpegang pada itinerary dan budget, schedule perjalanan kita akan cenderung on time, on the track and Feasible. Selain itu, penting juga mencatat hal-hal apa saja yang harus dilakukan, seperti membeli botol air mineral di minimarket begitu sampai di Dieng, serta berbelanja sayur dan buah untuk kebutuhan memasak di Gunung nantinya. Berikut contoh itinerary dan Budget yang saya buat ya:

Itinerary Prau - Dieng by The Harlend
Budget Prau - Dieng The Harlend

3.   Cicil (Beli atau Pinjam) outdoor & mountainering gear
Kami pun mulai mencicil untuk beli outdoor & mountaineering gear yang dapat mendukung kegiatan naik gunung. Soal membeli beberapa perlengkapan naik gunung ini juga bukan perkara mudah loh, karena selain barang seperti ini stock-nya terbatas, kita juga harus teliti dan mempelajari teknologi yang dimiliki barang tersebut. Misalnya, teknologi dryvent dan hyvent pada jaket, dimana produk tersebut waterproof dan breathable, sehingga dapat menjaga suhu tubuh kita tetap normal ketika beraktivitas di gunung. Setidaknya butuh waktu 3 bulan bagi kami untuk mempelajari, mencicil dan mengumpulkan outdoor gear untuk kegiatan hiking. Beberapa kali kami menjelajahi toko-toko outdoor online ataupun offline demi mendapatkan kualitas terbaik. But mostly, suami saya sih yang lebih expert soal ini.

Janthra's outdoor gear: Jackets (The North Face) and Hiking Shoes (Quechua)

Setelah semua barang yang harus dibeli terkumpul, kami juga meminjam beberapa barang seperti baby carrier dan tenda dari teman-teman kami yang juga pecinta alam. Wah, kalo semuanya mesti dibeli, hancur lah keuangan kami, secara barang-barang beginian harganya lumayan mahal. Hihi. Jadi, pastikan meminjam barang, termasuk dalam opsi persiapan naik gunung kamu ya, tentunya dengan menjadi peminjam barang yang bertanggung jawab juga.

4.   Latihan Fisik
Demi menjaga ksehatan dan stamina, saya dan suami juga mulai melakukan jogging untuk persiapan fisik sebelum naik gunung. Mengapa? Karena hiking itu memerlukan power endurance loh dan hal itu hanya bisa dicapai jika kita rutin melakukan latihan fisik, termasuk lari. Bukan lari- lari di hatimu loh ya. Eaaaaa..Biasanya, kami akan pergi ke salah satu stadion lari di bilangan kuningan setidaknya seminggu sekali.

Berfoto setelah jogging bersama suami dan teman-teman

5.   Booking tiket & Persiapkan Uang Cash
Apa jadinya perjalanan kita tanpa tiket? Jangan sampai rencana naik gunung kita gagal karena lupa memesan dan membeli tiket dari jauh-jauh hari ya. Selain itu, membeli tiket dari jauh-jauh hari dapat mengurangi anggaran budget liburan kita loh. Biasanya kan jadi lebih murah ya. Dan yang tidak kalah penting dengan tiket adalah uang cash. Asumsikan saja, di lokasi yang kita tuju nantinya sulit untuk menjangkau ATM, sehingga kita perlu mempersiapkan sejumlah uang cash di dompet atau wadah penyimpanan lainnya. Perlu diingat untuk selalu menyediakan dana darurat sekitar minimal Rp 500.000 diluar budget liburan kita. We’ll never know what is going to happen. Contohnya, di pengalaman naik gunung kami kemarin, kami harus menyewa mobil ketika pulang dari Dieng menuju Purwokerto dengan pertimbangan lebih cepat dan nyaman, mengingat Janthra habis terkena hypothermia.


6.   Bawa Makanan, Minuman dan Obat-obatan yang memadai
Dalam carrier kami, banyak sekali terdapat kudapan alias snack yang mengandung glukosa, tentunya untuk me-recharge energi kami selama mendaki dan turun gunung. Sebut saja coklat, biskuit, susu, minuman botol dalam jumlah yang cukup sudah kami siapkan. Jangan lupa sesuaikan snack untuk si kecil dengan snack favoritnya ya, supaya anak tetap bersemangat makan atau ngemil saat mendaki dan turun gunung. Soalnya, dalam keadaan dingin di gunung, anak biasanya tidak merasakan lapar. Hal itu pula yang saya alami ketika Janthra mulai hypothermia. Sulit sekali dibujuk untuk ngemil dan makan, ketika ditanya alasannya, jawabannya: “Ma, Janthra belum lapar”.

Selain makanan dan minuman, sangat penting untuk mempersiapkan kotak berisi obat-obatan yang dibutuhkan oleh kita dan anak kita. Untuk saya pribadi, saya membawa obat khusus untuk sinusitis, diare dan maag karena saya memang punya penyakit ini. Untuk suami, ia membawa obat pusing kepala dan maag. Dan untuk si kecil Janthra, saya membawa paracetamol untuk penurun panas, yaitu Tempra. Selain itu, terdapat juga obat flu serta syrup penambah stamina dan imun tubuh untuk Janthra. Kalau Tempra ini memang selalu saya bawa kemanapun pergi jauh bersama Janthra, karena anak-anak di usia balita memang paling mudah mengalami demam. Alasan lain mengapa saya membawa obat ini adalah karena Tempra memang terbukti cepat menurunkan demam anak, sehingga banyak dokter anak yang merekomendasikan, termasuk dokter-nya Janthra. Oh ya, Tempra ini juga aman sekali digunakan karena tidak menimbulkan iritasi lambung dan bekerja langsung di pusat panas. Sejak adik bungsu saya lahir, keluarga kami sudah turun-temurun menggunakan Tempra sebagai obat andalan penurun panas. Sudah dipercaya banget! Tips penting lainnya, bawa termometer ya moms! Supaya kita bisa tahu pasti suhu tubuh anak saat naik gunung.


Kotak Obat untuk naik gunung :
Selalu sedia Tempra, Paracetamol terpercaya yang dapat menurunkan panas dan demam anak

7.   Beristirahat dan Bermalam di penginapan dekat dengan lokasi pendakian
Nah, yang satu ini tips dari para Jagawana dan porter yang membantu kami di perjalanan Gunung Prau. Sebaiknya, kita beristirahat dahulu serta bermalam, paling tidak semalam di penginapan yang lokasinya dekat dengan pendakian. Karena ternyata hal ini dapat membantu proses aklimatisasi suhu tubuh anak kita loh. Yaps! Intinya membiasakan tubuh anak agar beradaptasi dengan suhu dan situasi di lingkungan baru, termasuk udara dingin dan kabut. Konon, kemampuan adaptasi tubuh anak terhadap lingkungan sekitar juga belum sempurna dan secepat orang dewasa, makanya anak-anak lebih rentan terhadap serangan hypotermia. Bagus banget ini tipsnya. Memang harus sering-sering deh ngobrol dan diskusi dengan jagawana dan porternya. Kami juga menyewa satu kamar di sebuah Losmen bernama Bu Djono, tarifnya sekitar Rp 75.000/malam. Yang penting tempatnya bersih dan bisa digunakan untuk beristirahat sejenak sekaligus menyimpan barang.

8.   Naik didampingi oleh porter
Bukan masalah kuat atau tidaknya kita sebagai orang tua untuk naik gunung dengan tidak membawa porter, tetapi hal penting yang perlu menjadi pertimbangan adalah kondisi anak kita. Dengan menyewa porter, kita dapat menghemat energi dan stamina, karena ada porter yang akan membawa tas dan barang-barang kita. Selain itu, kita dapat fokus memperhatikan dan menjaga kondisi anak kita.  Lagipula, porter biasanya orang lokal dan sudah berpengalaman, sekaligus mengenal lokasi pendakian, jadi bisa diandalkan. Sayangnya, porter kami, Mas Sulis tidak dapat menginap bersama kami di camp, dia hanya mengantar dan menjemput kami. Oh ya, sewa porter di Gunung Prau tarifnya Rp 300.000/ hari/orang ya.

Semangat nanjak didampingi oleh Mas Sulis yang berbaik hati membawakan tas dan barang kami

9.   Berbaik hati dengan Jagawana dan bertukar nomor kontak
Kami memulai pendakian sekitar jam 3 sore. Pertama, kami berkunjung dan registrasi dulu di base camp Pos Dieng Gunung Prau. Biaya registrasi-nya Rp 10.000/orang. Saat registrasi, kami sempat berbincang singkat dengan para jagawana. Kenapa sih beramah-tamah dengan jagawana sangat penting? karena jika sesuatu yang buruk menimpa kita, mereka yang akan bertanggung jawab dan menolong kita. Jadi, jauh-jauhin deh ego atau sombong berasa paling jago naik gunung. Selain itu, saya juga sempat meminta suami saya untuk mencatat dan bertukar nomor hp dengan salah satu jagawana. Hal ini terbukti berguna banget saat keadaan darurat di puncak Gunung Prau, dimana saya akhirnya mencoba menelpon dan sms jagawana untuk meminta pertolongan karena sangat khawatir dengan keadaan Janthra yang tergolek lunglai seakan tak punya tenaga. Alhamdulillah, walau sinyal susah, mereka pun balas menghubungi kami, bahkan sudah bersiap menjemput kami seandainya malam itu kami jadi turun. Pada akhirnya, suami saya menyarankan agar meminta jagawana dan porter menjemput kami di pagi hari dibandingkan memaksa turun saat dini hari. Karena udara malam dan kabut yang dingin bisa membuat Janthra kembali menggigil.

Di samping gerbang pendakian Pos Dieng ini, kita bisa registrasi dan bertemu para Jagawana

10.Buat anak selalu aktif selama naik gunung dan Pro-aktif memastikan kondisi anak
Di awal perjalanan, Janthra senang sekali, ia masih sering bersuara, masih bersemangat jika diajak bicara dan sangat antusias melihat pemandangan sekitar. Pertahankan kondisi anak dengan menjadi orang tua yang bawel dan bersemangat. Ajak anak bicara, menyanyi dan bercanda sepanjang perjalanan agar ia tetap aktif. Subhanallah, jalur pos dieng ini memang bagus untuk dilewati. Di kiri-kanan, kita dapat melihat kebun sayur milik penduduk lokal dan daerah Dieng dari ketinggian. Pos pertama-nya juga cenderung mudah dicapai dalam waktu yang singkat. Saat berhenti di pos pertama, kami beristirahat sejenak dan menurunkan Janthra dari baby carrier. Kami ajak ia bergerak dan berjalan-jalan sebentar, karena saat di baby carrier, otomatis ia akan jarang bergerak dan hal tersebut juga dapat memicu hypothermia. Janthra juga masih bersemangat makan snack coklat dan biskuit yang kami berikan untuk menambah energi. Tidak lupa, ia meminum air di botol minum bergambar Star Wars miliknya. Selain itu, anda juga dapat menanyakan apa yang anak rasakan saat itu, apakah kedinginan, kebasahan atau mungkin kelaparan.

Bercanda tawa dengan anak juga dapat menjadi salah satu cara menjaga anak tetap aktif

11.Stay Alert, Calm and happy
Jalur pendakian Pos Dieng ini memang ternyata cukup mudah. Anda hanya akan menemukan sedikit tantangan setelah Pos 2, karena ada beberapa spot yang cukup tinggi, curam dan licin. Setelah sampai di Pos 3, yang berarti sekitar ¼ perjalanan menuju puncak Gunung Prau, cuaca mulai tidak bersahabat. Hujan mulai turun rintik-rintik disertai dengan kabut yang cukup tebal. Kami pun segera melapisi Janthra dengan jaket yang jauh lebih tebal dari yang dipakai sebelumnya. Alert. Stay Alert. Kami juga melapisi leher, kepala dan telinga janthra dengan buff dan topi kupluk. Satu yang terpikir saat itu, bagaimana caranya untuk tiba secepatnya di camping ground. Kami mulai mempercepat langkah kami, sambil sesekali mengecek kondisi Janthra. Kemudian, hujan turun lebih deras dan saat itu sudah hampir magrib. Ketika itu, saya lihat bibir Janthra mulai membiru dan pipinya mulai memerah. Seketika saya berbalik badan menghampirinya. Saya cek suhu tubuhnya yang ternyata sangat panas, namun tangan dan kakinya sangat dingin. Janthra pun terlihat lemas dan sudah tidak bersemangat seperti sebelumnya. Saat itu, ingatan langsung membawa saya pada kejadian perjalanan pendek pada waktu bergabung di organisasi pecinta alam di kampus dulu. Salah seorang anggota kelompok saya, terkena hypothermia. Gejalanya persis seperti yang saya lihat pada Janthra. Bibir membiru, wajah pucat pasi, lemas dan beberapa bagian tubuhnya sangat dingin.

Selalu cek kondisi dan keadaan anak, serta memastikan ia dapat asupan makanan dan minuman

Saat itu saya sempat panik, apalagi melihat Janthra yang sudah kelihatan berat untuk tidak tidur. Beberapa kali saya mendapati Janthra mengantuk dan hampir tertidur. Sepengetahuan saya, orang yang terkena hypothermia dapat mengalami sudden death jika tertidur dalam kondisi suhu tubuh menggigil dan kedinginan. Oleh karena itu, saya berusaha tenang dan berpikir bagaimana caranya supaya Janthra tidak tertidur. Sehingga, setiap 5-10 langkah, saya menengok ke belakang dan memanggil Janthra dengan suara saya yang terkesan happy: “Janthra..Jangan tidur ya..anak mama harus tetap melek..”. Hanya Allah yang tahu perasaan saya saat itu. Saya harus menutupi rasa panik dan ketakutan saya sebagai ibu. Menutupi suara saya yang sudah bergetar menahan tangis tapi berusaha tetap happy buat Janthra. Jangan sampai Janthra terpengaruh oleh mood dan ketakutan saya. Susah, tapi harus dilakukan. Tepis semua pikiran negatif.

12.  Berusaha, Berdoa dan Berserah.
Sebelum tiba di puncak, saya sudah berpesan kepada suami dan porter, agar langsung berhenti begitu ada lokasi yang cukup baik untuk mendirikan tenda. Akhirnya setelah melewati puncak Prau, kami memutuskan berhenti dan mendirikan tenda di tengah hujan. Suami saya dan porter ditengah hujan dan kelelahan yang melanda, secepat mungkin memasang tenda, sementara saya sibuk memeluk dan berbicara dengan Janthra. Berusaha menghangatkan dan membuatnya tetap sadar. Tidak berapa lama, tenda sudah berdiri, lalu suami saya meminta saya dan Janthra masuk ke dalam. Secepat mungkin, saya membuka jaket dan baju janthra yang mulai basah. Saya ganti semua dengan jaket dan baju yang baru, begitu juga kaos kaki dan kupluknya. Saya juga memberikan minyak telon ke sekujur tubuh Janthra, termasuk kaki dan tangan agar ia merasa hangat. Kemudian saya balut dengan selimut dan sleeping bag. Setelah setengah jam, Janthra mulai tertidur. Kami pun berganti baju dan bergerak cepat untuk memasak air hangat dan makan malam. Sempat kami membangunkan Janthra sebentar untuk makan malam, namun hanya beberapa suap nasi dan telur yang ia makan. Ia juga sempat kami beri teh manis hangat. Hujan tidak kunjung berhenti dan udara semakin dingin, saya khawatir tenda kami basah kena tampias air hujan. Janthra muntah dan sempat buang air sekitar pukul 2 pagi. Saat itu rasanya sangat letih, terbersit pula perasaan gagal menjadi orang tua melihat keadaan Janthra yang terkulai lemas tak berdaya. Dan bibir saya hanya mampu mengucap doa dan berpasrah menunggu pagi, saat jagawana dan porter menjemput kami.

Pagi hari tiba, mentari mulai singgah menyinari. Janthra pun bangun dalam kondisi membaik. Ia bahkan semangat membantu saya membuat pancake, makanan kesukaannya. Namun, setelah ia memakannya, Janthra kembali muntah. Saat itu kami memutuskan untuk mempercepat rencana turun kami. Ketika Jagawana dan porter datang, suami meminta saya dan Janthra untuk turun bersama jagawana, sedangkan suami dan porter akan sesegera mungkin menyusul setelah packing beres. Kejadian saat pendakian pun berulang saat turun, ketika kami hampir sampai base camp, hujan kembali turun. Untungnya jagawana memarkir motor di pos dekat base camp. Lalu, ia membawa kami kembali ke penginapan Bu Djono.

Janthra semangat sekali mengaduk tepung dan telur untuk membuat Pancake

Disini, saya berpikir semua aman. Ternyata tidak, tubuh Janthra kembali bergetar dan menggigil saat kami makan snack. Sesegera mungkin saya kembali mengganti bajunya dan menyelimutinya dengan selimut tebal. Saya sempat menemui pemilik hotel untuk bertanya dimana lokasi RS dan dokter. Namun, ternyata tidak ada dokter, hanya ada bidan. Saya pun memutuskan kembali ke Janthra dan memberinya minum air hangat. Setelah itu, saya memeluk Janthra dan menaruh kedua tangannya ke sumber panas tubuh, seperti ketiak saya. Skin to skin method ini lebih cepat bekerja. Alhamdulillah, setelah setengah jam berpelukan dalam selimut dengan Janthra, keadaan suhu tubuh Janthra sudah normal kembali. Oleh karena itu, selepas Janthra bangun dari tidur dan suami saya tiba di penginapan, kami lantas membersihkan diri dan bersiap pulang menuju Jakarta.

Well, kira-kira itu lah cerita dan pengalaman saya liburan di Gunung Prau dengan membawa anak saya, Janthra yang masih berusia 3 tahun. Sungguh pengalaman yang mengajarkan saya banyak hal. Jadi, pastikan juga kalian mempersiapkan rencana perjalanan dengan sangat baik ya. Alhamdulillah, "Badai Telah Berlalu" dan kini Janthra sudah ceria bermain kembali.

“We learn so many things from nature and our son, Janthra. Inspite of his hypothermia, he struggled enough as well as we the parent did whatever we could..overall, nature has its own secret and they never tell you the secret, unless you learn to love them” –Gena Lysistrata-



Disclaimer: Berhubung pengalaman pribadi dan momennya pas, maka "artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho

100 komentar:

  1. Wow, meski udah prepare macem2, kebayang panik pas Jhantra kena hipotermia ya Gen... Salut! Ditunggu crita2 lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa mamih sandra..panik banget..untung bawa amunisi lengkap termasuk Tempra si obat penurun demam handal..makasih mamih sudah mampir dan baca yaa

      Hapus
  2. Aduuh Gen, kebayang deh paniknya pas Jhantra kena hipotermia. Janthra must be really proud for having a great parents like u Gen. Dan memang alam itu punya cerita sendiri ya. Pengalaman berharga bgt pasti buat kalian. Gw pun berencana mengenal alam lebih deket sm ghani. Tapi palingan camping yang cetek2 lah. Ga berani bok naik2 ke puncak gunung. Oke! Ditunggu cerita pendakian selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bu, panik tapi harus tenang..hehe..amiiin, smeoga nantinya Janthra beneran bangga punya ortu kayak kami. hehe...Betul bok! ayo kapan yuk kita camping ceria bareng2 yaa..

      Hapus
  3. Manfaat banget nih pengalaman seru dan persiapan sebelum naik apalagi bareng si janthra.
    Jadi mau coba, ditunggu cerita selanjutnya mba Gen!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Acong..Alhamdulillah kalo memang bermanfaat..makasih ya cong!

      Hapus
  4. Tenkyu gena udah tag.. berguna inih info nya... Janthra, sehat terus yaa nak, biar bisa hiking lagi sama mama papa mu... Ditunggu next story nya yaa Gena ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mamay, iya makasih kembali ya sudah mampir dan mau baca..senengnya kalo tulisan ini berguna..siap mamay! tunggu cerita-cerita lainnya ya

      Hapus
  5. SERU!!!!
    baru baca dan tahu kalau balita bisa diajak naik gunung,
    aku suka baca tipsnya, nambah istilah-istilah yang gak umum disini,
    keknya aku bakalan gampang kena hypotermia deh mba, wong di AC ajah menggigil #lah dia curhat.
    hahahaa.

    buleipotan.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Bule..seru emang mba main2 ke alam gini..wahhh, dipuji sama blogger kawakan jadi Ge-Er nih. haha..eh mba bule, semoga sih nggak gampang hypo ya. tp memang mba, kata dokternya anakku kemarin, situasi di gunung bs bikin hypo karena tidak hanya perbedaan suhu yg dingin, tapi juga perbedaan tekanan mba..

      Hapus
  6. Harus perlengkapan dan persiapan sehat kalau mau bawa balita ya mbaa. Sip deh tipsnya bsia dicoba walau anakku nggak balita lagi ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mba Alida..soalnya kan kita kan guardiannya anak2 mba. kalo kita-nya sakit, kasian anak2 mba. hehe..siapp mba Alida, semoga berguna yaa..makasih dah mampir

      Hapus
  7. Ya allah.. ternyata begini ya cerita lengkapnya..
    Alhamdulillah janthra baik2 aja ya..
    Teman sesama pecinta alam yg udh jd expert mom bukan drama queen lg ya klo di gunung. Hehhe..
    Ditunggu cerita seru nya lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Maldidhut..beginilah cerita lengkapnya. hehe..Alhamdulilah bu..
      Haha, gw mah bukan expert mom dhut, masih sama kok se-drama queen yg dulu cm skrg bedanya gw tahan aja, malu sama anak. wkwkwkw

      Hapus
  8. Ya allah.. ternyata begini ya cerita lengkapnya..
    Alhamdulillah janthra baik2 aja ya..
    Teman sesama pecinta alam yg udh jd expert mom bukan drama queen lg ya klo di gunung. Hehhe..
    Ditunggu cerita seru nya lagi

    BalasHapus
  9. Pengalaman menarik saat mengajak balita berwisata..tips nya berguna banget gen, gak cuma buat naik gunung yaa, bisa buat perjalanan ke mana pun, kalo bawa anak emang hrs persiapan lengkap kap kap kap..jadi inget waktu kecil, seinget saya hidup (karena lupa umur berapa) udah diajakin hiking sama ayah dan ibu yang kedua nya merupakan anggota organisasi pecinta alam yang sama. Tapi gak pernah hiking bertiga aja sih, pasti serombongan..mungkin itu yang memudahkan orang tua saya dulu bawa balita nya hiking, karena banyak stock babysitter selama perjalanan :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih za, seneng banget dibilang tips-tipsnya berguna banget sama seorang Dokter penerima beasiswa pula! hihi..iya za, bener bgt emang harus lengkap bgt deh perabotan dan persiapannya..Btw, itu juga tips yang oke tuh za, jalan bareng rombongan..jd ada stock babysitter.haha

      Hapus
  10. Tulisannya seru dan informative banget. Berhubung saya juga pernah ngalamin hypotermia jd tau banget rasanya apalagi kalo anak balita yg ngalamin. Tulisan ini bisa buat referensi orang tua untuk lebih pede dan mempersiapkan dg lebih baik utk membawa liburan anaknya ke gunung yah....terima kasih sharing nya mbak gena

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh, mba des juga pernah kena hypothermia ya? iya mba, pasti sekujur badan lemah lunglai dan ga enak ya rasanya..wah, makasih ya mba des atas commentnya

      Hapus
  11. Merinding bacanya geen. Bikin gw semangat ngajak navy ke gunung. Bermanfaat banget infonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe makasih hayyu..seneng kalo tipsnya bermanfaat..ayok ajak navy ke gunung!

      Hapus
  12. Aku juga jadi mau ajak anak ke Gunung neh, minimal Papandayan gitu ya.
    Tipsnya ok banget neh mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba lis..papandayan cakep loh katanya..aku jg pengen kesana..belum pernah naik ke sana..hehe..thanks mba

      Hapus
  13. Bawa anak2 ke gunung bisa jd alternatif liburan ya mbak, jadi ga ke mall mulu hhehee
    Keren bgt idenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul Mas Agung..biar ngerasain sejuknya udara pegunungan dan keindahan alam. hehe..makasih ya mas udah mampir

      Hapus
  14. Ghena... Ini goals aku bangett pingin ajak darell naik gunung,sekalian stimulasi kecerdasan naturalis nya. Thanks for sharing 😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh..bagus kalo gt aie..ayo ayo ajak abang darell naik gunung yuukk

      Hapus
  15. Mbaaaak keren sekali bawa anaknya yang kecil naik gunuuuung. Fisik bener-bener harus kuat ya kalo gini. Menginspirasi banget perjalanannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Hanifa!

      Terima kasih mba. hehe..seneng kalau bisa menginspirasi..iya, persiapan fisik harus oke banget mba

      Hapus
  16. Genaa..ya ampun aku ikutan deg2an bacanya.. untung janthra ga kenapa2 ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makbon, iyaa mak, emang bikin panik banget waktu itu kejadiannya..alhamdulillah, Janthra sehat mak..hehe

      Hapus
  17. wah belum pernah abwa balita naik gunung mungkin karena aku juga gak suka naik gunung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya mba Tira..setiap orang memang punya hobi masing-masing ya mba..that's okay mba.hehe

      Hapus
  18. Semoga Janthra ga kapok naik gunung ya. Alam itu indah, nak. Kalau aku lebih suka pantai. Ga sabar ajak Sid snorkeling lihat ikan dan terumbu karang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba helen..alhamdulillah sih nggak kapok dia..malah dia minta diajak lagi.hihi..ahhh, aku juga suka laut loh mba..aku suka diving..hehe

      Hapus
  19. Mba Genaaa, aku blm pernah ngajak anak naik gunung. Aku suka naik gunung jaman dulu hihi, tapi anakku cewek2 :)) kenapa aku jadi kasian yaaa, klo laki masih tegaan. Keren Janthra..alhamdulillah selamat :)
    Seumuran anakku yg pertama ya kayanya Janthra

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii mba suci..

      ayoo digiatkan kembali hobinya..nanti anaknya bisa jadi petualang cantik. hihi..iya alhamdulillah, janthra sehat dan selamat mba..wah, salam kenal ya untuk anaknya mba suci..

      Hapus
    2. Aku udah mampirr yaaa hihii, good luck mba Genaaaa ^^

      Hapus
  20. wahhh seruu.. klo naik gunung suami yg angkat tangan, pdhl emak ama anaknya semangat.. salutt 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Mira...

      Gpp mak, gak ke gunung kan masih tetap bisa ke gunung agung beli buku buat anak-anak. hihi..makasih ya mba udah komen

      Hapus
  21. Bacanya antara seneng, sedih, panik tapi lega...alhamdulillah Janthra sehat dan selamat samapai rumah :)
    Seru baca blog mama Janthra, selalu ada ilmu baru ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Gie!

      iyaa..nano-nano ya pengalamannya. hehe..Alhamdulillah Gie, Allah masih melindungi..
      wah makasih yaa..seneng bisa berbagi ilmu baru buat Gie..Thanks!

      Hapus
  22. ya ampun, aku seneng banget mba baca blog kamu. lain di antara yang lain. hihi. nambah ilmu banget. walau untuk naik gunung sih bukan aku banget. hihi

    thanks for sharing ♥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo salam kenal Mba Akhila!
      Hehe, jadi enak nih dibilang blog-nya beda diantara yang lain..Alhamdulillah bisa nambah ilmu baru yaa..
      Gak apa-apa mba, kan masih ada cara lain menikmati keindahan alam selain naik gunug. haha..makasih ya udah komen

      Hapus
  23. Wah, deg-degan juga nih kalo naik gunung dapat pengalaman kayak gini. Syukurlah Janthra baik2 aja ya. Keren ih, kecil2 udah naik gunung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Frida!

      iya Mba, deg-degan pake banget. hehe..Alhamdulillah dia baik2 aja..lagi mulai dibiasakan nih mba supaya seneng main di alam. hehe..makasih udah mampir ya mba

      Hapus
  24. Wah seru banget naik gunungnya gen..alhamdulillah janthra ga pa2 ya..jadi pengen ajak anak gw jalan2 naik gunung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Muji!

      Iya, beneran seru deh pengalaman naik gunung prau ini..Syukurnya begitu mba..ayo mba, semangat ajak anak main di alam..hehe

      Hapus
  25. asyik bawa sikecil..
    untung anaknya gak pake rewel minta pulang..ha2..

    obat-obatan jangan sampai ketinggalan ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha..itu juga ketakutan terbesarku mba..minta pulang saat diatas gunung..Alhamdulillah, dia ga minta pulang..Betul mba nova, obat-obatan tuh krusial bgt deh..jgn smp ketinggalan ya mba

      Hapus
  26. hebat buat kalian, bisa menghadapi semuanya, padahal itu pasti bikin deg2an banget ya.. pengalamannya pasti seru banget ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe alhamdulillah maknik..kami semua masih dilindungi..iyaa bener maknik, deg2an dan seru bgt..

      Hapus
  27. wah keren bgt ya jantra,salut bwt gena n budi udh bikin liburan yg dibilang ga mungkin balita bs dicuaca ekstrim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii seila..

      Makasih yaa..hehe..iya, yg penting preparation-nya maksimal jg.hehe..

      Hapus
  28. wah keren bgt ya jantra,salut bwt gena n budi udh bikin liburan yg dibilang ga mungkin balita bs dicuaca ekstrim

    BalasHapus
  29. Salam kenal, Mbak. Keren pengalamannya naik ke puncak Gunung Prau bawa anak. Suaminya gak bawa ransel gendong, tapi gendong anak segitu ya sama aja beratnya. Hihhihi.

    Saya belum pernah ngajak anak-anak naik gunung, dan anak-anak juga sukanya malah mainan air. Jadi lebih sering ke laut dan berenang di waterboom gitu. Tapi kayanya kudu dicoba nih ngajak anak-anak ke gunung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Kenal Mas Eko..

      Makasih ya mas.hehe..iya, suamiku ga manggul ransel tapi manggul anakku pake baby carrier..Haha

      wah..seneng mainan air juga ya anaknya mas..anakku juga suka bgt sih renang atau main air..pernah dibawa ke pantai di anyer dan pantai2 di gunung kidul..iya mas, cobain deh naik gunung bareng anak-anak, biar terbiasa main dan mencintai keindahan alam.hehe

      Hapus
  30. Wah, Udah ajak balita aja naik Gunung mba! Aku bawa diri sendiri aja masih ngos-ngosan 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe..iya mba wulan..kebetulan krn aku dan suami suka kegiatan outdoor, jd semangat deh bawa anak..

      Hapus
  31. wow...jantra kerennn...nanti naik hgn bareng banyu y, wkt banyu 2thn udh pernah k puncak mega, gnung puntang. alhmdllh lancar jaya kmren kami mah. ga kebayang jd km gen.....duuuhhh, aq baca nya mpe merinding. subhanallah....hebatttt, smg kita bisa playdate y jantra n banyuuu. slm buat budi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih rin..wah asik bgt ya banyu pun juga udah pernah naik gunung..iya rin, sempet panik, alhamdulillah sudah berlalu semuanya..aminn..yuuuk, kita trekking yuk rin..salam juga buat banyu dan oteg yaa

      Hapus
  32. wow...jantra kerennn...nanti naik hgn bareng banyu y, wkt banyu 2thn udh pernah k puncak mega, gnung puntang. alhmdllh lancar jaya kmren kami mah. ga kebayang jd km gen.....duuuhhh, aq baca nya mpe merinding. subhanallah....hebatttt, smg kita bisa playdate y jantra n banyuuu. slm buat budi

    BalasHapus
  33. wwaah saya masih kuat nggak ya naik gunung. Hebat mbak bisa ajak si kecil, nice tips..dan tetap sedia obat-obatan ya, penting itu memang:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Dwi!

      makasih ya mba..iya,sengaja ngajak si kecil supaya bisa mencintai alam mba..setuju banget, persediaan obat itu wajib hukumnya. Hehe

      Hapus
  34. Belum pernah naik gunung sama nak, pasti bawaaanya buanyak ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Kania!

      Iyaa mba..banyak banget memang bawaan alias perabotan lenongnya..makanya lebih aman kalo ditemenin sama porter mba

      Hapus
  35. Salut sama Mom yang bisa atur kegiatan ini bareng si dedek. Kadang ke mall aja rempong hikss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Alma..

      Rempong tapi bener-bener menyenangkan loh mba.hehe..sensasinya beda banget ke mall sm ke alam

      Hapus
  36. Anaknya enjoy banget, kelihatannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaa Mba Relinda..awalnya enjoy bgt dia..

      Hapus
  37. Waaaah ceritanya bikin pengen nangiis,, itu gimana rasanya waktu anak sakit pas di ajak naik gunung. Waktu Skin to skin method saya bayangin pasti kuatir banget ya, sambil berdoa semoga janthra baik baik saja.

    Alhamdulillah, akhirnya badai terlah berlalu.. semoga berikutnya dia semakin kuat.

    AKu aja yang belum menikah belum pernah naik gunung, hanya sebatas wacana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal ya Mba Laili..

      Iyaaa mba, memang pengalaman yg berharga banget buat kami..haru dan kalut jadi satu..alhamdulillah semua sudah berlalu...ayo mba, kapan2 naik gunung yuuk

      Hapus
  38. Menegangkan mba, pengalamannya. Sulungku pernah mau ikut kegiatan pecinta alam di kampusnya, tp dg pertimbangan kesehatan & kesibukan sbg jurnalis kampus, akhirnya urung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaa mba Evy,

      cukup menegangkan memang. hehe..wah sibuk sekali si sulung mba, semoga selalu sehat yaa

      Hapus
  39. Mba genaaaaaa, gimana yah bacanya seru terharu deh, aku punya rencana naik prau juga sama temen, bawa anak kami, tulisannya mantep eh hehehe jadi pertimbangan juga mau ajak naik terlalu tinggi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh,,seneng kalo ternyata cerita yg aku share ini bisa bikin terharu sekaligus seru..makasih ya udah baca..semoga bisa dpt manfaat yaa

      Hapus
  40. naek gunung sekali doang, waktu diksar pas kuliah dulluuuuu..hehe.. setelah itu gak pernah lagi. :D . skrng2 pengen bgt naek gunung ma keluarga, tapi kok gak nyambung sama minat anak dan suami :(((

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhh..setidaknya pernah merasakan keindahan gunung ya mba..hehe..mungkin coba trekking ke kebun teh dulu mba..atau ke cibodas liat air terjun.hehe

      Hapus
  41. mbak, itu budgetnya paling banyak untuk belanja bahan camp ya? lebih ngirit belanja atau hanya menyewa saja ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa mba..bengkak banget kalo beli-beli barang camping..tapi buat kami investasi sih mba, karena akan kami bawa ke aussie nanti..tergantung mba akan pakainya berapa lama dan sesering apa..kalau memang hanya sesekali, mending sewa, tetapi kalau akan sering dipakai, lebih baik beli mba..pahala juga kalo kita minjemin.haha

      Hapus
  42. Tips nya bermanfaat banget, aq juga pengen ajak anak2ku naik gunung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi mba stefanny..

      makasih yaa, seneng deh kalo memang bermanfaat..ayo mba ajak anak2 kenal lebih dekat dengan alam..

      Hapus
  43. Wah..keren mbak naik gunung sm balita. Klo aku udah nyerah duluan..hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, makasih mba Arifah..tadinya sih jiper, tapi ya insya allah kalo bawa anak, kita jd lbh kuat mba..tengsin kalo loyo depan anak mba. haha

      Hapus
  44. Ihik keren. Sayamah belum pernah naik gunung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, makasih mba Heni..salam kenal yaa

      Hapus
  45. mbak keren banget, naik gunung ngajak balita. sampai sekarang belum kesampaian ngajak anak-anak naik gunung, kemarin cuman sampai KetepBoyolali belum Merapi aja sudah hebohnya luar binasa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Siti..salam kenal yaa..

      Wah..itu udah awalan yang bagus loh mba bisa sampe ketep boyolali..semoga ke depan lebih cihuy ya jalan2nya.hehe

      Hapus
  46. Betul sekali, Tempra ini ga boleh lupa untuk dibawa karena memang manfaatnya yang penting buat anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mas Akhmad! salam kenal yaa..

      Iya mas, tempra selalu dibawa kemanapun saya bepergian jauh bersama anak. biar lebih preventif juga. hehe

      Hapus
  47. Naik gunung mbaa? kereenn bangettt ^^b

    BalasHapus
    Balasan
    1. IShhhh mba Shinta..aku mah apa atuh dibanding mba shinta yang nggak cuma keren tapi juga ngehitz..haha

      Hapus
  48. Wah itinerary sama budgetnya dibuat secara tertulis ya...manajemennya bagus, Mbak :)
    Saya juga lumayan sering naik gunung sama anak-anak, tapi buat perencanaannya gak sedetil itu he he he...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii Mba Nurul..terima kasih sudah mampir..
      iya mba, manajemen perencanaan diajarin dulu pas di mapala ui.hehe..wah, kapan2 bisa naik gunung bareng kita..hehe

      Hapus
  49. kereen banget mbak, dan buat janthra, jempoool

    BalasHapus
  50. Wah ketemu lagi nih sama keluarga yang demen naik gunung :) saluuuut saluuuut.

    Salam kenal mbak, makasih udah mampir ke omnduut.com ya :)

    BalasHapus
  51. sumpah, hebat banget si bisa ajak si kecil naik, huhuhu, si kecil happy ya mbak? sempet rewel ndak?

    salam,
    ara

    BalasHapus
  52. Wah anaknya juga naik gunung mbak? Keren, jiwa seorang pendaki dari ibunya nular hehe. Harus di telaah lebih dalam lagi nih tips nya biar bisa naik gunung sama anak juga istri nanti

    BalasHapus