Rabu, 13 Juli 2016

Emak - Emak Mengejar Beasiswa: Part 4: Kenapa Harus Australia Awards Scholarship?

Ahhh, akhirnya saya bisa nulis tentang cerita beasiswa lagi. Mumpung masih libur. Hehe. Di tulisan cerita beasiswa saya kali ini, saya akan berbagi mengenai salah satu keunggulan beasiswa Australia Awards Scholarship dibanding dengan beasiswa lainnya. Tentu semua jenis beasiswa bagus dan punya keunggulan tersendiri. Misalnya, LPDP, beasiswa ini direkomendasikan untuk mereka yang punya keluarga karena setiap anggota keluarga yang dibawa serta juga akan mendapatkan tunjangan tambahan sebesar 25% dari jumlah beasiswanya. Atau beasiswa DIKTI yang katanya punya kuota khusus buat para pengajar, sehingga hampir dipastikan bisa lulus kalau kamu pengajar atau dosen, tentunya dengan usaha keras juga ya. Lalu, apa yang membuat saya akhirnya melamar beasiswa Australia Awards Scholarship (selanjutnya akan saya sebut AAS)?Apa sih salah satu keunggulan beasiswa ini yang membuat saya sangat amat bersyukur mendapatkannya? Jawabannya ada pada: Pre Departure Training. Makhluk macam apalagi itu? Yuk, simak pengalaman saya yang sudah sekitar 1,5 bulan mengikuti Pre Departure Training AAS.

Apa itu Pre Departure Training?
Yak!Jika kamu sudah dinyatakan lulus sebagai AAS Awardee, biasanya kamu akan menerima email pemberitahuan yang juga akan menyatakan berapa lama kamu akan mengikuti Pre-Departure Training (PDT) di Jakarta atau Bali. Nah, buat kamu yang ingin tahu proses seleksi lengkap AAS sebelum sampai pada tahap ini, silahkan klik dan baca tulisan saya ini Seleksi Beasiswa AAS. Oke, kembali ke PDT. Durasi PDT sangat tergantung dengan hasil IELTS Test Score kamu saat masa seleksi beasiswa. Ada yang 9 bulan, 6 bulan, 4,5 bulan, 9 Minggu, 8 Minggu, dan 6 Minggu. Ada yang di Bali dan di Jakarta. Tapi, biasanya yang di Bali di peruntukkan bagi teman-teman Awardees yang berasal dari Timur Indonesia dan sekitarnya. Setahu saya, jika kamu mendapatkan hasil tes dengan range 6-6.5, kamu akan bernasib sama seperti saya, mengikuti PDT selama 4,5 bulan. 

Oke, jadi apa dong PDT itu? Intinya, PDT itu adalah Pelatihan untuk mempersiapkan kamu berbahasa inggris dengan baik sekaligus terbiasa dengan metode belajar dunia barat yang sangat berbeda dengan metode belajar atau kuliah di Indonesia. Oh cuma gitu doang. Eitss, ga cuma gitu doang kok. Kalau saya berani menyatakan PDT ini adalah salah satu keunggulan AAS, pasti ada alasannya dong. Mau tau keistimewaan apa saja yang kamu dapatkan selama PDT? Nih, saya kasih gambarannya biar pada semangat ngejar beasiswa.

PDT di IALF
Siapa yang tidak tahu IALF? Salah satu penyedia layanan kursus Bahasa Inggris ternama dan bergengsi di Jakarta. IALF memang dikenal sebagai penyedia layanan kursus Bahasa Inggris dan IELTS Preparation, namun sayangnya, biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti kursus di IALF tergolong mahal. Paling mahal diantara penyedia kursus lainnya. Misalnya, menurut teman saya, untuk IELTS Preparation intensif selama 4 hari di IALF, anda harus merogoh kocek sebanyak 4 juta-an. Hmmm, rela gak ya keluar duit pribadi segitu banyak untuk persiapan tes IELTS? Kalo saya sih nggak. Haha. *medit.com

Nah, kebayang gak berapa banyak nilai uang yang harus dikeluarkan AAS untuk membiayai awardees-nya mengikuti kursus gratis dan IELTS Preparation di IALF? Contohnya seperti saya yang mendapatkan 4,5 bulan PDT di IALF. Berapa puluh juta dana yang harus dikeluarkan oleh AAS? Silahkan hitung, saya sih nggak mau hitung, karena nanti jadi pusing mikirinnya. Haha. Selain itu, kami juga mendapatkan uang pengganti transport selama PDT ini, saat ini sih (2016) jumlahnya Rp 3.000.000 per bulan. Alhamdulillah banget. Haha. Mulai mengerti dong kenapa saya sebut beasiswa AAS ini unggul?

Sambutan dari IALF Director saat hari pertama Pre-Departure Traning. Di foto ini juga terdapat beberapa pengajar di IALF. Baris depan (Kiri-kanan) : Mas Adi, Barbara, Michael dan Ibu Rina
Baris Belakang (Kiri-kanan) : Gai Littler and Simon


Terus setiap harinya, ngapain aja sih di PDT?
Mulai hari pertama (waktu itu tanggal 23 Mei 2016), kami para awardees yang akan mengikuti PDT selama 4.5 bulan di IALF Kuningan Jakarta, sudah dibagi menjadi 3 kelas dan saya terdaftar ke dalam kelas 4.5M2 yang berisikan 9 orang luar biasa di bidangnya masing-masing. Di hari pertama, kami diajak berkeliling IALF dan melihat fasilitas-fasilitas yang ada disana. Ini penting sekali, karena kami akan tiap hari datang ke IALF yang berlokasi di Menara Selatan Plaza Kuningan Jakarta untuk belajar. Tidak hanya meninjau fasilitas, tetapi kami juga diperkenalkan dengan para staf IALF dan diajarkan mengenai peraturan menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut. Memang lengkap banget sih fasilitasnya. No wonder, biaya IELTS Preparation disini mihil. Hehe. 

Salah satu fasilitas unggulan IALF, Perpustakaan. Ruangan ini nyaman banget untuk belajar, karena selain memiliki banyak koleksi buku, juga terdapat 2 Discussion Room, fasilitas komputer untuk browsing, email, bahkan audio visual untuk latihan tes IELTS. Saya suka banget nongkrong disini. Hehe


Pantry di IALF. Kalian bisa seduh teh, kopi atau ambil air putih free disini


Jika tidak ada kelas, teman-teman Awardees biasanya duduk sambil makan atau minum di pantry ini.

1.    Kursus Bahasa Inggris dan IELTS Preparation
Setiap harinya, kami diharuskan datang jam 7 pagi mulai Senin sampai dengan Jumat. Jadwal kelas-nya akan berbeda-beda setiap minggunya. Biasanya setiap minggu, akan ditempel time table schedule di mading yang ditempel di Library atau di lorong IALF. Kelas pagi (mulai dari jam 07.00 – 09.00) biasanya akan diisi dengan belajar bahasa inggris di kelas dengan masing-masing pengajar. Pengajar di kelas saya adalah native speaker dari Australia yang bernama Gai Littler. Biasanya kami akan diberikan exercises berupa soal-soal yang mencakup materi Grammar, Vocabulary, dan materi dasar lainnya dalam Bahasa Inggris. Tetapi ingat, anda harus lebih aktif bertanya di kelas, karena Teacher-nya tidak akan menjelaskan sesuatu jika anda tidak bertanya. Diam berarti anda dianggap mengerti. Persis seperti kelas-kelas di Australia nantinya.

Lucky number 13 classroom..Ini kelas kami. Dilengkapi dengan laptop dan projector juga

Untuk kemampuan listening, biasanya teacher di kelas akan memberikan exercise sheet dan memutarkan percakapan atau contoh materi kuliah di Australia, sehingga kita bisa terbiasa mendengar dalam bahasa inggris dan menangkap poin-poin penting selama perkuliahan berlangsung nantinya. Selain itu, terdapat metode lainnya untuk meningkatkan listening skill dalam PDT, yaitu mengikuti kelas di laboratorium bahasa, menonton film setiap hari jumat, serta mengikuti kuliah umum dosen tamu dari Australia.

Khusus untuk kemampuan writing, kami biasanya akan dibagi menjadi 3 kelompok berisikan 3 orang dan berdiskusi mengenai satu topik, kemudian membahas topik tersebut dan menuliskannya di Pizza Board. Metode ini cukup efektif, karena kami bisa berdiskusi mengenai topik tersebut dan bagaimana menulis essay yang baik. Tentunya hal ini berguna untuk mendapatkan skor tinggi di IELTS Test dan untuk tugas kuliah di Australia nantinya.

 The Pizza Board. Wadah untuk menulis dan berdiskusi

Sedangkan untuk kemampuan speaking, kami biasa menggunakan metode work in pairs. Teacher akan membagikan topik dan soal untuk didiskusikan dan kami akan berlatih berbicara dalam bahasa inggris secara berpasangan. Bagusnya, masing-masing dari kami akan diminta untuk mengevaluasi kemampuan speaking pasangannya, jadi bisa saling belajar.

Hal tambahan lainnya adalah, kami akan melakukan simulasi IELTS Test setiap 2 minggu sampai 1 bulan sekali. Berguna sekali untuk membiasakan diri di situasi tes sesungguhnya dan mengukur kemampuan bahasa inggris kami sejauh mana perkembangannya. Tidak hanya itu, kami sering diminta untuk menulis review artikel, jurnal atau majalah dalam bahasa inggris sebagai tugas tambahan. Jadi, jangan kira tidak sibuk ya ikut PDT ini. Karena setiap hari ada saja homework yang harus dikerjakan. Hehe. Terdapat juga beberapa tugas penting lainnya yang akan dinilai sebagai progress kita, seperti membuat review dari bahan bacaan, menyiapkan bahan presentasi dan melakukan presentasi di kelas, membuat abstrak dari tesis dan proposal riset. Sejauh ini, baru 3 tugas itu yang saya dapatkan. Hehe.

2Pelatihan Computer, Language and Cross-Culture Skill
Setelah kelas pagi berakhir, biasanya nanti kami akan mendapatkan kelas-kelas tambahan, seperti kelas komputer di lab komputer, kelas bahasa di lab bahasa dan kelas budaya di Auditorium. Biasanya dimulai dari jam 09.00-11.00, sebelum nantinya masuk ke kelas bahasa inggris kembali dengan teacher yang sama seperti kelas pagi setiap harinya (jam 11.00-13.00). Pelatihan komputer biasanya akan dipandu oleh Mas Adi atau Ibu Rina. Mereka akan mengajarkan software atau situs yang akan mendukung kegiatan perkuliahan. Di kelas inilah, saya jadi lebih mahir dan mengetahui cara-cara cepat merapihkan daftar isi untuk skripsi atau tesis, cara menggunakan software rationale untuk membuat essay yang bagus, cara menggunakan situs pencari jurnal atau buku online, cara menggunakan situs grammarly, dll. Wah, banyak bgt deh amunisi yang didapat untuk persiapan kuliah di Australia.

 Begini ini suasana di Lab Komputer

Lalu, di kelas bahasa, kami akan dilatih untuk mendengarkan kuliah dan materi lainnya dalam bahasa inggris. Selain itu, kami juga bisa berlatih cara mengucapkan kata dalam bahasa inggris yang baik dan benar (pronunciation). Peralatan di lab komputer memungkinkan kami untuk mendengar, merekam suara kami dan mendengarkan kembali suara yang kami rekam. Dengan begini, kami dapat mengevaluasi cara pengucapan kata yang benar.


Ini contoh peralatan audio yang ada di Language Lab. 
Berikut Novel yang juga menjadi tugas tambahan dari kelas Cross Culture

Kelas lainnya yang juga kami dapatkan adalah cross-culture class oleh Barbara. Pengajar yang satu ini kocak dan ekspresif banget. Hehe. Di kelas ini biasanya kami diajarkan mengenai hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di australia, norma dan budaya di Australia, bagaimana cara bergaul dan berinteraksi di Australia sampai ke bahasa-bahasa prokem alias slang disana. Bermanfaat banget deh buat bekal selama di Australia nanti. Kelasnya juga interaktif banget, banyak diskusi dan tanya jawab-nya.

3. General Lecture dari Dosen Tamu
Ini nih fitur paling seru dan paling saya nanti-nanti selama PDT (menurut saya loh ya). Hehe. Jadi, setiap 2 minggu atau sebulan sekali, akan ada Profesor atau Doktor dari berbagai Universitas di Australia yang sengaja didatangkan untuk memberikan kuliah khusus untuk kami para awardees AAS. How cool is that? Keren banget menurutku. Bener-bener bisa mengalami langsung diajar oleh dosen tamu yang memang sangat ahli di bidangnya. Di kelas ini, kamu bisa lihat perbedaan gaya mengajar dosen di Australia dan di Indonesia. Kamu juga bebas bertanya dan berdiskusi langsung loh dengan dosen tamunya. Tentunya sehabis dosen tamu tersebut selesai menjelaskan presentasinya. 

Maafkan fotonya yang kurang bagus, karena saya hanya akan memotret sebelum kuliah dimulai.
Tidak sopan mengeluarkan HP selama presentasi dari dosen. Hehe

Ini suasana kelas besar sebelum kuliah umum dimulai. Hehe.

4.Persiapan Mendaftar Kuliah di Australia
Bagaimana untuk persiapan mendaftar kuliah di Australia? Nah, semuanya akan diurus dan dibantu oleh pihak AAS. Ini juga nih yang jadi salah satu keunggulan beasiswa Australia. Pihak pemberi beasiswa benar-benar membantu penerima beasiswa sampai ke hal teknis pendaftaran universitas. Akan ada beberapa pertemuan dengan pihak AAS yang akan membahas mengenai fasilitas apa saja yang didapatkan penerima beasiswa, persyaratan dan kelengkapan dokumen untuk mendaftar kuliah, sampai ke hal-hal teknis seperti asuransi dan visa untuk keluarga. Di sesi ini, saya juga tahu bahwa untuk pengurusan visa awardees dan keluarganya sampai medical check up akan dibantu dan diurus semua oleh pihak AAS. Luar biasa!. Tetapi ingat ya, AAS ini sudah beberapa tahun terakhir tidak lagi menanggung biaya bagi keluarga yang dibawa oleh Awardees. Tetapi, menurut banyak orang, besaran beasiswa-nya tetap cukup untuk membiayai 1 keluarga hidup di Australia. Semoga ya. Oh ya, selain menanggung biaya penuh pembelajaran (biaya kuliah saya sekitar 36.000 USD/tahun) dan biaya hidup di Australia (30.000 USD/tahun), AAS juga memberikan settlement fee saat awardees pertama kali tiba di Australia (5000 USD) yang dapat digunakan untuk menyewa rumah/apartemen dan biaya awal lainnya. Nah kan?keren banget nggak beasiswa AAS ini.. 

Merchandise yang diberikan oleh pihak AAS untuk para Awardees. Mayan. Hehe

5. IELTS TEST Gratis
Dan tentunya, AAS juga akan menanggung biaya tes final IELTS yang dibutuhkan sebagai salah satu persyaratan mendaftar kuliah di Australia. Minimal harus tembus 6.5 sih biar aman dan tentram. Doain saya ya nantinya bisa menembus angka segitu, bahkan lebih. Amiiin. Berarti totalnya 2 kali AAS akan menanggung biasa IELTS Test, pertama saat masa seleksi, kedua saat masa pendaftaran kuliah. Dengar-dengar lagi sih, kalau di kesempatan pertama setelah ikut PDT kami belom juga lulus tes IELTS, kami diberi pilihan untuk ikut PDT tambahan 2 bulan dan mengulang tes IELTS atau menurunkan grade universitas. Ya Allah, semoga sih semua yang PDT 4.5 bulan (termasuk saya) bisa lulus tanpa remedial. Aminin dong?*maksa..Haha.

Selain itu, dengan mengikuti PDT ini, kita juga dapat memperluas network dan kenalan dengan sesama penerima beasiswa AAS. Siapa tahu kan ada yang satu universitas atau satu kota. Bisa barengan berjuang nantinya atau bahkan tinggal bersama agar menghemat living cost. Hehe. Saya senang sekali bisa bertemu dan berteman dengan orang-orang hebat ini, dengan mengenal mereka, saya juga mendapatkan pengetahuan tambahan di bidang lain dari teman-teman sekelas saya, seperti kimia, biologi, medikal bahkan maternity

Hai! ini foto-foto saya dan teman sekelas saat Field Trip ke Museum Nasional. 
Yang tengah itu teacher kami, Gai Littler

Tuh, udah saya kasih bocoran keunggulan AAS yang tidak dimiliki beasiswa lain. Biasanya pemberi beasiswa lain hanya memberikan stipend dan living cost, tetapi tidak ada fasilitas persiapan dan support untuk mendaftar di universitas. Meminjam istilah teman saya, beasiswa lain terkesan ‘menceburkan’ penerima beasiswa untuk struggling dengan perkuliahan dan kehidupan di luar negeri tanpa memberi amunisi dan persiapan. Tetapi di AAS, kami jadi kayak tentara gitu, diberi amunisi dan pelatihan dulu sebelum maju ke medan perang. Hehe. Buat yang ingin dapat beasiswa tetapi masih ragu dan belum semangat, silahkan mencari inspirasi dengan membaca dan klik tulisan saya ini: Cerita di balik Beasiswa AAS. Setelah itu, semoga makin semangat dan langsung pingin daftar beasiswa AAS, namun, sebelumnya baca juga tulisan saya tentang persiapannya: Persiapan Beasiswa AAS. So, siapa lagi yang ingin merasakan keistimewaan beasiswa prestigious ini?silahkan comment dan tanya-tanya lebih lanjut ya. Thanks!









40 komentar:

  1. Aaak asli aku mupeeeng..
    Mba Gena, kalau aku udah S2, bisa apply untuk S2 lagi ga yah di AAS ini? Kalau di LPDP kan ga bisa mba..
    Aku no action nih.. Kebanyakan mikir mulu -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kurang tau soak itu mba..tp kayaknya sih bisa aja deh selama masih relevan sm pekerjaan atau sejalan dgn visi australia.hehe..yuuukk semangat lg mba des!

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Aaak gena kereeeen.. Dalam hati pingin, tp mesti belajar sementara smbil kerja itu rasanyaaaaa, mau pengsan, hahaha. Good luck gena, semoga IELTS yang kedua langsung memenuhi syarat yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe makasih jeung lisna!kamu juga keren berkah menang kuis terus.hehe..iya bu,memang itu tantangannya..aku pun begitu dulu pas seleksi..kudu belajar smbl kerja dan ngasuh anak..amiiinn mama naya!makasih doanya..

      Hapus
  3. Good luck buat beasiswa, mbak.
    Mudah-mudahan sukses :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Son..amiiin utk doanya yaa

      Hapus
  4. Pertama saya apresiasi dengan sangat baik untuk AAS. Tak semua pemberi beasiswa mau bersusah payah mengurusi penerima beasiswa, apalagi mengadakan PDT. Keren, deh, AAS ini. Recommend deh buat ponakan saya dan orang yang mau ambil beasiswa di Australia.
    Kalo saya masih punya minat tinggi dengan pendidikan di luar negeri kayaknya saya kudu berusaha sekuat tenaga untuk menjadi Awardee.

    Semoga Gena diberi kemudahan dalam menyerap ilmu selama PDT sehingga lancar jaya dan lulus IELTS, aamiin.

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak ya mas alris untuk doa dan tanggapannya..iyaa mas, silahkan rekomendasikan informasi AAS ke kerabatnya yaa..sukses untuk mas alris jg yaa

      Hapus
  5. Wah keren mbak selamat ya semoga sukses dengan beasiswanya, kalau saya mah belum pernah dapat beasiswa seperti mbak gena palingan hanya beasiswa biasa mah saya pernah, ahi hi hi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kang nurul iman..apapun beasiswanya pasti bagus dong..kan sudah terseleksi.hehe

      Hapus
  6. Wow banget ya AAS, congratulations bisa jadi awardee nya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you putri! Congrats jg ya kamu udh lulus stuned..sukses buat kita berdua yaa kuliahnya

      Hapus
  7. Menarik mbak, aku bookmark ah :)

    BalasHapus
  8. Thank u so much for sharing Mba... Salam Kenal saya Dame Elysabeth.. Bersyukur bisa ketemu blogspotnya mba.. Semoga bisa menjadi bagian dr PDT Tahun ini.. Aminnn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halooo Dame!
      Salam kenal juga yaa..senang bisa sharing..semoga bermanfaat yaa..sukses juga utk kamu ya,semoga beruntung jg jd bagian AAS Awardees

      Hapus
    2. Halooo Dame!
      Salam kenal juga yaa..senang bisa sharing..semoga bermanfaat yaa..sukses juga utk kamu ya,semoga beruntung jg jd bagian AAS Awardees

      Hapus
    3. Aminnn.. Makasih banyak doanya mba. mba.. Maaf ingin bertanya.. Utk PDT, dr indormasi yg saya baca dibagi menurut hasil IELTSnya..Bagaimana dengan pengalaman mba Gena.. Apakah pembagian hasil IELTS tersebut berdasarkan bandnya or overall nya.. Thank you mba .

      Hapus
    4. Haloo..pengalamanku sih pembagiannya berdasarkan overall band ya..rata2 begitu sih.hehe

      Hapus
  9. Beasiswa memang membantu banget, mba. Aku alhamdulillah juga dapat beasiswa dari kementerian saat kuliah S2 di UI, mba. Alhamdulilla. Pengeen kuliah di Negeri. SMoga terkabul. Amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul mba alida..membantu bgt memang beasiswa itu..semangat mba! Semoga ketemu di australia ya.hehe

      Hapus
  10. Ikut mengaminkan semua doa dan harapan Gena, semoga barokah yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiinn..makasih yaa anggi sayang 😘

      Hapus
  11. Amazingg yahh bikin mupeng lagi, kk ku akan berangkat juga, setelah keliling eropahh, kebagian juga sih oleh-olehnya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iyaa mba mira..sebanding usahanya sama yang nantinya akan didapat..wahhh seru bgt ya kakaknya mba mira

      Hapus
  12. Halo mba mau nanya dong berapa lama jarak antara pengumuman kelulusan akhir dengan PDT nya? Soalnya di tempat kerja persyaratannya mengajukan resign 1 bulan sebelum. Saya sudah selesai JST dan sedang deg-degan nunggu hasilnya heheheh.Thank ypu sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halooo..

      Kalo kemarin itu jaraknya sih cukup lama ya, aku lupa persisnya tp lbh dr 3 bln..saranku, resignya stlh dpt email lulus dr AAS ya..bakalan ttp ada waktu kok utk one month notice..mereka udh perhitungkan. Tenang aja.hehe..good luck ya!

      Hapus
  13. Hai Mbak Gena, senang membaca tulisannya yang sangat informatif. Kebetulan saya bulan ini baru akan memulai PDT. Kalo liat dr fotonya...satu kelas dengan Yanti ya?. Dia teman saya juga...😀. Good luck yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii mba Echi!
      Salam kenal..congrats ya sdh lulus seleksi AAS jg..iya, teh yanti memang teman sekelas saya.hehe..good luck jg ya mba

      Hapus
  14. Penasaran, jadi baca part 1-nya deh. Sensi pulak aku yang bagian "jangan ngomong doang, realisasiin dong". Uwaaa~ cita-citaku sekolah di LN tapi gatau kapan hahaha XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe..makasih ya UNA sudah mampir dan baca tulisanku..salam kenal ya..ayo semangat realisasikan mimpi!hehe

      Hapus
  15. adi
    semoga sukses dan lacar disana dan nama saya bukan danis tapi gannis
    hehehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuahhh..senengnya dimampirin sama mas adi langsung..maaf ya mas atas kesalahan nama, sudah saya revisi yak.hehe..see you again mas adi! thank you

      Hapus
  16. Halo, mba Gena.. salam kenal yaa dari platform sebelah hehehe

    Anyway, aku pernah dengar soal beasiswa AAS ini mba tapi cuma sebatas dengerin aja, sama sekali gak ada tindakan nyata haha *dilema pemburu beasiswa*

    tq info-nyaa mba Gena, dan good luck yaa ..

    BalasHapus
  17. Wahh lengkap mbak..eh tapi ada satu yg kurang...tips isi applikasinya sonk mbak hehehe

    BalasHapus
  18. Salam kenal mbak,
    Mau nanya terkait AAS. Saya baru dapat pengumumunan terkait AAS intake 2018 bahwa saya lulus seleksi administrasi. Di dalam email pemberitahuan sudah ada jadwal tes IELTS dan interview. Pada email tersebut juga ada keterangan kalo seandainya punya hasil tes IELTS dalam kurun waktu 3 bulan dan nilainya di atas 6 untuk PhD bisa digunakan dan tidak perlu ikut tes IELTS lagi. Kebetulan saya bulan Mei kemaren baru tes dan dapat nilai overall band score 6,5. Masalahnya ada nilai 5,5 di writingnya. Saya sudah telpon ke kantor AAS Indonesia, mereka mengatakan yang dipakai nilai band scorenya, sehingga untuk kasus saya sudah tidak perlu tes lagi. Pertanyaan saya, Apakah nilai IELTS mempengeruhi rangking kandidat untuk bisa lolos ya? (semakin tinggi IELTS nya, prosentase lolosnya lebih tinggi).
    Sedangkan sebagai catatan untuk Universitas tujuan saya untuk PhD memang minimal overall bandscorenya 6,5 tapi semua harus diatas 6, padahal punya saya ada yg 5,5 di writingnya.
    Katanya nanti kan ada kursus bergantung nilai IELTS kita, nah setelah kursus itu apa nanti kita akan di tes lg IELTS nya atau otomatis lolos ya?
    Mohon jawaban dan sarannya mbak, apakah saya pake sertifikat yg sudah ada atau mending tes lagi ya?
    Karena kata Staf AAS Indonesia, nilainya kalo tes lagi ya yang dipake yg itu alias tidak dilihat yg paling tinggi. Saya takut kalo tes lagi malah nilainya lebih jelek.

    Terima Kasih.

    BalasHapus