Minggu, 20 November 2016

Masa Depan Bangsa Bergantung pada Remaja Perempuan 10 Tahun, Benarkah?


Pernahkah kita, sebagai perempuan berpikir, apa peran kita terhadap bangsa? saya pernah. Dan saya yakin betul, bahwa perempuan adalah kunci pembangunan bangsa. Kenyakinan saya ini kembali diperkuat ketika saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara Blogger and Social Media Enthusiast Gathering bertema "10: How our Future Depends on a Girl at This Decisive Age" yang diselenggarakan oleh UNFPA & BKKBN pada 15 November 2016 lalu. 

Sejuta Wajah Perempuan

Wahai para pria, jangan iri, jika saya bilang bahwa perempuan adalah kunci pembangunan bangsa. Karena dibalik kalimat ini tersimpan sejuta peran perempuan dalam mempersiapkan sumber daya manusia bangsa. Sebuah amanat yang berat dan saya yakin jika ditanya kepada kami, apakah kami sanggup untuk menanggungnya, kami akan menjawab tidak. Namun, bukan itu yang terpenting. Peran dan tanggung jawab tersebut telah melekat dalam diri perempuan sejak dilahirkan. Betapa tidak, setidaknya ada 3 peran dasar dari seorang perempuan, yaitu seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu. Bahkan dalam agama yang saya anut, terdapat hadist yang kira – kira bunyinya seperti ini:

“Ketika perempuan menjadi seorang anak, maka ia membukakan pintu surga untuk ayahnya. Ketika perempuan menjadi seorang istri, ia melengkapi separuh imbalan surga suaminya. Dan ketika perempuan menjadi seorang ibu, maka surga berada di bawah kakinya”.

Menurut saya, hadist ini adalah refleksi bagaimana peran dan tanggung jawab seorang perempuan yang begitu berharga. Dan pendidikan seorang perempuan itu sejatinya harus dimulai sejak dini, sejak masa remaja. Tidak salah jika PBB dalam agenda pembangunan berkelanjutannya, menyatakan bahwa pendidikan yang berkualitas untuk semua, termasuk remaja perempuan usia 10 tahun memiliki efek masif untuk mewujudkan visi tentang dunia, tanpa kemiskinan.

Sustainable Development Goals 2030 (sumber: http://www.hmpdsemaku.blogspot.com)


Mengapa Remaja Usia 10 Tahun?

Faktanya, 32 juta remaja perempuan dalam usia sekolah dasar tidak duduk di bangku sekolah. Padahal, masa transisi dari anak – anak ke tahap dewasa, merupakan tahapan yang sangat penting. Menurut Anitsyah Robertson, Kepala UNFPA Indonesia, terdapat banyak hambatan yang menghalangi perkembangan remaja perempuan 10 tahun, diantaranya adalah pernikahan dini, hamil di usia sangat muda, terpaparnya remaja perempuan atas penyakit infeksi kelamin dan kesehatan reproduksi. Sebagian besar tentu karena terbatasnya akses pendidikan dan kesehatan bagi remaja perempuan, dan hal ini memiliki dampak jangka panjang, yaitu keterbatasan pilihan dalam kesempatan ekonomi dan pekerjaan.

Mrs Anitsyah Robetson (UNFPA) beserta BKKBN menjelaskan tentang pentingnya investasi pada remaja usia 10 tahun

Kebayang gak sih, kalau ketika kita berusia 10 tahun, yang artinya kita masih SD, terus disuruh nikah sama orang tua. Di usia 12 tahun hamil, dengan resiko keguguran yang tinggi. Dan ketika melahirkan, karena mental tidak siap, jangankan baby blues yang menghampiri, bisa-bisa langsung stress karena harus ngurus anak tanpa bekal pendidikan yang cukup. Beruntung kalau pernikahannya langgeng, kalau suaminya yang juga masih usia belia tahu-tahu pergi ninggalin? Ya ampun, runtuh deh dunia. Abis itu, mesti menghidupi diri dan anak sendiri. Terus mau kerja apa tanpa pendidikan yang baik dan skill yang mumpuni? Masalah lain pun timbul, misalnya prostitusi dan trafficking. Belum lagi nasib anak yang dilahirkan tadi. Akan tumbuh seperti apa ia, tanpa didikan yang baik dari sosok ibu dan ayah? Padahal generasi muda itu kan aset bangsa.

Bikin tulisan ini, langsung teringat pengalaman langsung ketika di Kalteng bertemu dengan adik-adik ini. Mereka harus berjalan berpuluh kilo hanya untuk ke sekolah

Intinya sih, mau ngajak kita semua yang notabenenya perempuan untuk berpikir mengenai nasib remaja perempuan di sekitar kita. Kenapa remaja perempuan berusia 10 tahun? Ya karena dalam jangka waktu 15 tahun ke depan, mereka yang akan menjadi penerus bangsa. Mereka akan menjadi ibu yang mencetak pemimpin – pemimpin cerdas. Tidak menutup kemungkinan, bahkan mereka sendiri yang akan menjadi calon para pemimpin negeri ini. Jika di tahap usia yang krusial ini, kita tidak berinvestasi pada remaja perempuan usia 10 tahun, maka semua akan menjadi serba terlambat bukan?

Lalu, tanggung jawab siapa?

Pemerintah Indonesia melalui BKKBN sudah mulai melaksanakan program GENRE (Generasi Berencana) dengan sasaran remaja usia 10-24 tahun agar lebih sehat, cerdas dan ceria. Program pemberdayaan remaja ini menitikberatkan pada pendidikan remaja perempuan, utamanya usia 10 tahun, agar memiliki pengetahuan dan kontrol yang baik terhadap isu pernikahan dini dan fertilitas. Lembaga – lembaga internasional pun mulai melibatkan remaja dalam setiap programnya, misalnya saja, UNFPA Youth Program.

Saatnya kita, sebagai perempuan ikut berpartisipasi dalam pemberdayaan remaja perempuan 10 tahun. Kuncinya cuma satu, PEDULI. Saya ingat, ketika saya kecil mama dan papa sering kali mengajak saya untuk memberikan uang (yang akan digunakan untuk membayar SPP sekolah) kepada beberapa anak perempuan dan laki – laki yang tidak mampu di tempat saya tinggal. Alasan mama dan papa simpel, mereka ingin anak-anak tersebut tetap bersekolah, lulus, kemudian bekerja membantu perekonomian keluarganya. Adalah suatu kebahagiaan sendiri, ketika sekarang ini, melihat anak-anak asuh mama dan papa saya sudah berdaya dan mengangkat derajat keluarga mereka.




Sebagai blogger, saya mencoba menyampaikan pesan sosial ini melalui tulisan di blog saya. Semoga banyak pembaca tulisan ini yang terinspirasi untuk peduli terhadap isu pemberdayaan remaja usia 10 tahun. Kamu pun bisa ikut menyebarluaskan pesan sosial ini. Kepada sesama perempuan, ibu, orang tua dan remaja yang kamu kenal. Apa susahnya berbagi informasi? Hal itu tidak akan membuat miskin, bahkan membuat kamu lebih kaya ilmu. Mari peduli!

26 komentar:

  1. Great thought to inspire other :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Its an honour to have this kind of compliment from you who really care about child issues, mba fit..thank you!

      Hapus
  2. Di zaman yang semua serba digital ini, ternyata masih ada 32jt perempuan yang nggak duduk di bangku sekolah. Dan lagi dampak karena hal tsb ke mana2 ya :(
    Saya kaget loh Mba dengan angka sebesar itu, semoga program GENRE dapat berjalan lancar dan sukses. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba dwi..aku pun kaget pas baca di brosur yg dikasih UNFPA..itu tingkat dunia sih datanya mba..amiinn..semoga program pemberdayaan perempuan dpt sukses dan lancar..makasih udh mampir mba..

      Hapus
  3. artikel ini sangat bermanfaat..
    satu hal yang ingin saya tanyakan, kenapa wanita 10 tahun sudah dikategorikan sebagai perempuan remaja? Bukankah usia 10 tahun masih dikategorikan sebagai anak-anak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertanyaan yg sama dan pernah sy diskusikan dg satto raji...barangkali melihat anak perempuan yg rata2 sudah.haid usia segitu maka sudah baligh atau scr reproduksi sdh masuk kTegori remaja..dan remaja jg bagian dr kelompok usia anak sd 18 th kalau gak salah yah....gmn bu Gena pak Satto? anyway.. tulisan ini menarik inspiratif.

      Hapus
    2. Terima makasih mas yos mo sudah menyempatkan baca artikel ini..makasih juga mba wawa yg telah bantu merespon pertanyaannya mas yos mo..

      Ada benarnya yg dikatakan mba wawa, bahwa pada anak2 tertentu, di usia 10 thn sudah mencapai tanda kematangan biologis seperti sudah haid. Selain itu, menurut WHO, kementrian kesehatan RI dan BKKBN, kategori remaja adalah mereka yg berusia 10-24 tahun dan belum menikah.

      Nah, mengapa usia 10 thn termasuk remaja, krn dr segi psikologis, menurut Monks, Knoers, dan Haditono terdapat empat bagian masa remaja, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006: 192).

      Kira2 begitu respon saya, mas yos mo dan mba wawa..semoga membantu ya..

      Hapus
  4. Hai mba Gena, masih banyak ya yg beranggapan bahwa perempuan nggak pantas buat sekolah lagi karena kalo gede akan di dapur :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuull mba alida..terutama di masyarakat pedalaman dan di pelosok indonesia..stigma seperti itu masih sangat melekat, belum lagi tinjauan budaya yang kadang mengekang pergerakan perempuan untuk maju..

      Hapus
    2. Iya Gen, mungkin perlu sosialisasi, perempuan harus sekolah tinggi (intinya sih bukan tingkat pendidikannya, tapi kaya akan ilmu yang berguna bagi diri dan sesama yaa) karena mereka akan menjadi calon ibu yang merupakan guru pertama bagi anak anak nya kelak, generasi wanita yang baik, akan melahirkan keturunan yang baik dan dunia yang lebih baik, kelak.. aamiin :) Kalau mengenai remaja lelaki yang ntar jadi Bapak Bapak nya gimana Gen? Mungkin beda perspektif yaa? Boleh nanti dikaji juga di blog Gena selanjutnya..hehe

      Hapus
    3. Iya Gen, mungkin perlu sosialisasi, perempuan harus sekolah tinggi (intinya sih bukan tingkat pendidikannya, tapi kaya akan ilmu yang berguna bagi diri dan sesama yaa) karena mereka akan menjadi calon ibu yang merupakan guru pertama bagi anak anak nya kelak, generasi wanita yang baik, akan melahirkan keturunan yang baik dan dunia yang lebih baik, kelak.. aamiin :) Kalau mengenai remaja lelaki yang ntar jadi Bapak Bapak nya gimana Gen? Mungkin beda perspektif yaa? Boleh nanti dikaji juga di blog Gena selanjutnya..hehe

      Hapus
    4. Iya Gen, mungkin perlu sosialisasi, perempuan harus sekolah tinggi (intinya sih bukan tingkat pendidikannya, tapi kaya akan ilmu yang berguna bagi diri dan sesama yaa) karena mereka akan menjadi calon ibu yang merupakan guru pertama bagi anak anak nya kelak, generasi wanita yang baik, akan melahirkan keturunan yang baik dan dunia yang lebih baik, kelak.. aamiin :) Kalau mengenai remaja lelaki yang ntar jadi Bapak Bapak nya gimana Gen? Mungkin beda perspektif yaa? Boleh nanti dikaji juga di blog Gena selanjutnya..hehe

      Hapus
  5. Saya yakin masa depan bergantung pada remaja perempuan. Itu sebabnya saya menulis blog juga.
    Hanya saja cara saya agak (eh sangat) berbeda.

    Lain waktu kita diskusi ya mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya mas habib..menulis blog bisa jadi salah satu media untuk sosialisasi dan edukasi ya mas..

      boleh mas, kapan2 kita diskusi ya

      Hapus
  6. Aku inget perkataan temen aku, "kalau kita kasih uang ke laki-laki, uang itu akan habis untuk dirinya sendiri, tapi kalau kita memberikan uang pada perempuan, uang itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan anak2". Jadi perempuan itu harus dididik dengan baik dan dimuliakan, apalagi para anak2 itu akan menjadi penerus bangsa yg melahirkan orang2 hebat bagi Indonesia. Sosialisasi seperti ini harus dilakukan sama orang2 menengah bawah yg selalu mikir kalau perempuan itu warga kelas 2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes mamih sandra..bener mih..masih banyak yang memandang peran perempuan sebelah mata. mind set seperti itulah yang harus diubah. semoga ke depan banyak program-program pemberdayaan masyarakat dan perempuan yang dpt mencerdaskan bangsa ya mih

      Hapus
  7. dikampung2 sini msh banyak bgt loh mak yg dinikahin dr jaman smp. pdhal ortunya mampu u sekolahin anaknya. gak ngerti deh apa yg ada dipikiran mrk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih banget ya maklia..memang realitasnya seperti itu..sekarang tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat bisa mengoptimalkan media untuk sosialisasi dan edukasi..dibanding cuma dipakai untuk hal-hal yang tidak bermanfaat ya mak

      Hapus
  8. Miris membaca anak Perempuan usia 10 tahun Zaman sekarang sudah disuruh menikah ��.. ah, dampak pembangunan tidak terlalu terasa di daerah2 terpencil ya, Bu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba dina..semangattt mba..tugas kita2 juga nih untuk bantu pemerintah menyebarkan hal-hal positif dan mencerdaskan..

      Hapus
  9. Kalian pilih kasih, kata nya kesetaraan gender tapi kenapa hanya wanita ihik ihik #MelenggosTampan

    BalasHapus
  10. Hmm saya sendiri pun kalau udah pulang kampung di tanyain #kapannikah #eh kok curhat.
    padahal lulus kuliah juga belum.
    Memang kalau di desa desa, dianggap udah waktunya nikah ya nikah aja. Bahkan umur masih belasan.

    Hmm baru tau kalau umur 10th itu masuk ke pra remaja, kirain masih kategori anak anak ^^

    Semoga program program diatas sukses. Amiin.

    BalasHapus
  11. Ya Tuhan, mohon sebar orang-orang baik dengan pemikiran terbuka seperti ini. Good words, thanks for sharing, mbaknyaaa.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
  12. Mirisnya kalo tau fakta yang ada yaaa..huhuhu. Semoga makin banyak orang yang terbuka mata dan pikirannya soal isu ini dan bersama mencari jalan keluar yaaa..

    BalasHapus
  13. Buat para orangtua, semangat yuk buat nyetak penerus bangsa yang kelak akan membuat kita bangga <3

    Salam,
    Oca

    BalasHapus
  14. Chattering mom is a natural thing because mom is a person who needs a lot of normal things.

    BalasHapus